Gejolak ekonomi global dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS berdampak langsung pada produsen tempe di tanah air. Di tengah makin meroketnya harga kedelai bahan baku pembuatan tempe, para perajin kini terpaksa memperkecil ukuran produk tempe produksi mereka.
Faris (32), salah satu perajin Ltempe di Kompleks Kopti Semanan, mengungkapkan bahwa langkah itu dilakukan agar dirinya tidak perlu menaikkan harga jual yang dapat membuat pelangga berkurang.
"Makanya harus ada strategi kayak tadi tuh, dikurangin ukurannya supaya jadi lebih terjangkau. Biasanya ukuran 35x12 sentimeter gitu misalnya, ini jadi 30x10 sentimeter lah paling," uja Faris saat ditemui Kompas. (22/5/2026).
Bagi Faris, yang memproduksi sekitar 80 kilogram tempe per hari, kenaikan harga baha baku ini sangat terasa. Ia mencatat harga kedelai yang biasa dibelinya perlahan naik hingga menembus angka Rp 11.000 per kilogram.
Menurut dia, harga kedelai terus merangkak naik karena bahan baku yang digunakan oleh para perajin adalah bahan impor dari luar negeri.
Pelemahan rupiah dan mahalnya kedelai impor menunjukkan rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme yang melahirkan ketergantungan dan menyulitkan rakyat kecil. Naiknya harga kedelai dan plastik menunjukkan lemahnya peran negara dalam menjaga keberlangsungan usaha rakyat. Membuat tempe yang sudah menjadi mata pencarian kian terasa sulit bagi rakyat karena mahalnya bahan baku yang disebabkan kegagalan negara dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Ketergantungan impor kedelai mencerminkan lemahnya kemandirian pangan dan ekonomi negara. Kedelai yang menjadi bahan dasar pembuatan tempe yang menjadi salah satu makanan khas Indonesia harusnya tidak diimpor dari negara lain. Namun, karena pemerintah Indonesia yang notabene selalu menggantungkan kebutuhan pada negara lain, kemandirian pangan adalah hal yang mustahil dan perekonomian negara jelas dalam kondisi yang tidak baik-baik saja. Ini adalah cermin kegagalan negara dalam menjamin kebutuhan rakyatnya.
Kenaikan harga kedelai impor membuat perajin tempe kian terhimpit. Inilah gambaran nyata sistem kapitalisme yang mengusai negeri ini. Negara tak pernah benar-benar bertanggung jawab atas kesulitan rakyatnya.
Berbeda halnya dengan sistem Islam. Dalam Islam, sistem pemerintahan Khilafah menggunakan mata uang emas dan perak sehingga nilai uang lebih stabil dan tidak mudah dipermainkan spekulan. Khilafah menghidupkan lahan pertanian dan membangun produksi kedelai mandiri sehingga tidak bergantung pada impor.
Selain itu, politik ekonomi Islam berfokus pada pemenuhan kebutuhan pokok tiap individu, termasuk melindungi perajin kecil dari tekanan ekonomi sehingga rakyat terhindar dari kesulitan ekonomi dan memperoleh kesejahteraan yang hakiki dalam kehidupan.
Oleh sebab itu, sudah selayaknyalah kita mengganti sistem pemerintahan sekuler kapitalisme menjadi sistem pemerintahan Islam karena hanya dengan sistem Islamlah rakyat akan terhindar dari kesempitan hidup.
Wallahu a'lam bishshowaab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar