Terus bergerak, Jangan Berputus Asa Dalam Dakwah!


Oleh : Nina Iryani, S.Pd

"Saya sangat frustasi dengan kondisi masyarakat sekarang ini, akh. Sudah rusak. Jika kita sampaikan nasihat kepada mereka, malah kita yang dimaki-maki.”

“Masyarakat kita sudah bejat memang, gelap. Apalagi media massa sekarang ini. Malah semakin memperkeruh suasana. Umat Islam diadu kepalanya, mereka menontong sambil tertawa.”

“Memang betul jahilliyah sudah. Mudah sekarang mengakses televisi, radio, internet, sosial media yang dari waktu ke waktu semakin kotor dan kelam. Tinggal menunggu kiamat.”

Pernah dengar seorang ‘pendakwah’ merintih dengan kalimat-kalimat di atas? Pendakwah di sini bukanlah sebuah istilah yang ekslusif yang ditunjukkan kepada suatu golongan atau gerakan. Setiap manusia yang sedang menyampaikan kebenaran kepada orang lain pun kita sebut dengan ‘pendakwah’ atau dengan nama lain dai.

Mereka bukanlah orang-orang yang malas yang kemudian mereka merintih dan mengeluh. Mereka adalah sosok manusia yang bersungguh-sungguh dalam dakwah, dengan berbagai jenis usaha dilakukan. Mereka ini bukanlah sok-sokan menjadi pendakwah, bukan juga pendakwah yang diberikan gelar ustadz atau dai oleh saluran-saluran televisi. Mereka bukanlah pendakwah selebriti yang banyak mengikuti arus keinginan atau marketing di masyarakat.

Mereka adalah pendakwah yang ikhlas, berdisiplin dan berprinsip. Namun mereka juga seorang manusia. Sudah pasti memiliki perasaan dan ada kalanya perasaan itu adalah kesedihan dan kekecewaan apabila dakwah yang disampaikan tidak disambut dengan baik, kesedihan ketika melihat budaya jahiliyyah menguasai masyarakat yang dia cintai, kekecewaan jika kerusakan yang ada semakin membesar dan tidak bisa lagi dibendung.

Saya bukanlah pemuda yang hebat di jalan dakwah. Namun, saya teringat oleh suatu kisah. Kisah tersebut mampu menjadi obat untuk para pendakwah yang sedang dirundung kesedihan dan kekecewaan. Ketika saya kecewa maka kisah ini menjadi pengingat saya untuk kembali optimis dan semangat untuk melanjutkan langkah-langkah penuai keberkahan di dunia dan di akhirat, yaitu dakwah.

Nabi Yunus Meninggalkan Kaumnya Dalam Kondisi Marah

Kisah nabi Yunus alaihissalam memang unik. Jika kita melihat kembali isi al-Qur’an kita bisa melihat bahwa ketika nabi-nabi lain dikisahkan sebagai sosok yang tegar dan tangguh dalam jalan dakwah mereka, nabi Yunus alaihissalam dikisahkan sebagai nabi yang kecewa kepada kaumnya.

Setelah nabi Yunus berdakwah untuk sekian waktu, dan kaumnya masih memberontak dan menolak risalah yang dibawa oleh Yunus alaihissalam, hanya memperingatkan kepada kaumnya tentang besar dan kerasnya adzab Allah azza wa jalla. Sehingga pada suatu hari Allah azza wa jalla menimpakan dahsyatnya adzab-Nya kepada kaum nabi Yunus alaihissalam.

Marah dengan sikap yang ditunjukkan oleh kaumnya nabi Yunus alaihissalam meninggalkan mereka di kala mereka terkena adzab yang diberikan oleh Allah azza wa jalla. Padahal Allah belum memerintahkan kepada nabi Yunus untuk meninggalkan mereka. Peristiwa ini diabadikan oleh Allah azza wa jalla dalam QS. Al-Anbiya ayat 87:

“Dan ingatlah kisah Dzun Nun (Yunus alaihissalam) ketika dia pergi meninggalkan kaumnya dalam keadaan marah.”

Perbuatan nabi Yunus ini menjadikannya diuji oleh Allah. Dimana nabi Yunus dilemparkan dari kapal dan kemudian ditelan oleh seekor ikan besar. Dalam masyarakat Turki ikan tersebut dipanggil dengan panggilan Yunus Balığı atau ikan Yunus.

“Dan sungguh Yunus benar-benar termasuk salah satu rasul, (ingatlah) ketika dia lari ke kapal yang penuh muatan, kemudian dia ikut berunding, ternyata dia termasuk orang-orang yang kalah dalam undian yang dilemparkan ke laut. Maka dia ditelan oleh ikan besar dalam keadaan tercela.” 
(TQS. As-Saffat 139-142).

Allah memang tidak menyukai orang-orang yang berputus asa. Termasuk kepada mereka yang berputus asa dalam jalan dakwah. Yunus alaihissalam meninggalkan kaumnya, padahal Allah belum memerintahkan kepadanya untuk pergi dari kaum tersebut. Yunus pergi dalam keadaan marah dan kecewa kepada kaumnya. Kemudian Allah memberikan ujian dan pelajaran kepada Yunus alaihissalam.

Taubatnya Nabi Yunus

Nabi Yunus alaihissalam tidak lama berada di perut ikan besar tersebut. Walaupun ada yang mengatakan bahwa hanya tinggal di dalam perut ikan tersebut selama 40 (empat puluh) hari. Jika kita melihat ilmu sains, tubuh ikan paus penuh dengan cairan masam yang berlipat ganda dibanding kemasaman pencernaan manusia. Ditambah lagi, di dalam tubuh ikan tersebut tidak ada oksigen yang cukup untuk seorang manusia hidup lama di sana. Wallahu ‘alam.

Namun yang perlu kita pahami bersama adalah ketika nabi Yunus berada di dalam perut ikan paus, hanya menyadari bahwa dia sedang dihukum oleh Allah azza wa jalla atas apa yang ia lakukan kepada kaumnya. Kemudian ia menyesal, beristighfar dan bertaubat kepada Allah.

“Maka dia berdoa dalam keadaan yang sangat gelap, “Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang dzalim.” 
(TQS. Al-Anbiya ayat 87).

Setelah Allah mendengar dan melihat kesungguhan nabi Yunus alaihissalam memohon keampunan, Allah menyelamatkan nabi Yunus dan membawa ikan paus tersebut ke tepi pantai dan memuntahkan dirinya.

“Maka, sekiranya dia tidak termasuk orang-orang yang banyak berdzikir (bertasbih) kepada Allah, niscaya dia akan tetap tinggal di dalam perut (ikan itu) sampai hari berbangkit. Kemudian kami lemparkan dia ke daratan yang tandus, sedang dia dalam keadaan sakit.” 
(TQS. As-Saffat ayat 143-145).

Setelah nabi Yunus keluar dari perut ikan tersebut, hanya diutus kembali untuk menyeru kaumnya ke jalan tauhid, terbakar dalam api tauhid. Kemudian balasan atas taubat dan kesadaran nabi Yunus adalah keberhasilannya mengajak umatnya menemukan cahaya keimanan.

Kisah Nabi Yunus dan Pendakwah Hari Ini

Kisah nabi Yunus alaihissalam di atas menunjukkan kepada kita semua beberapa hal penting yang perlu kita ketahui:

Pertama, janganlah berputus asa dalam jalan dakwah. Karena memang jalan dakwah itu penuh dengan onak dan duri. Ini yang membuat jalan ini istimewa dan mampu membawa orang-orang yang berjalan dengan ikhlas mencapai titik syurga Allah. Allah juga membenci mereka yang mudah berputus asa;

Kedua, tidak terlalu cepat menghukumi masyarakat bahkan mengharapkan supaya mereka di adzab oleh Allah, karena tugas seorang pendakwah adalah menyeru kepada manusia untuk mengerjakan kebaikan dan meninggalkan keburukan. Bukan untuk menghakimi mereka dengan label-label tertentu;

Ketiga, kesabaran akan dibalas dengan keindahan yang sempurna. Balasan yang tidak bisa kita rasakan manisnya di dunia.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, 

“Jika ada seseorang berkata: banyak orang yang sudah rusak. Maka orang yang berkata itu sendiri yang paling rusak diantara mereka semua.” 
(HR. Muslim)

Ini juga bukan berarti kita dilarang untuk menyebut, menganalisa, membuat kesimpulan akan realitas yang ada. Bahwa masyarakat kita sekarang sudah hanyut dengan hedonisme, media massa dan media sosial yang terlalu banyak unsur-unsur negatif, jauhnya masyarakat dari nilai-nilai Islam dan banyaknya perzinaan, pemerkosaan, perampokan, pembunuhan dan sebagainya. Bagaimana mungkin kita dilarang untuk menyimpulkan kondisi ini?

Namun, yang dilarang adalah menganggap bahwa umat ini sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Kemudian mereka patut untuk diabaikan. Dakwah perlu dihentikan karena sudah tidak lagi berarti untuk mereka.

Orang ini adalah orang yang paling rusak. Karena telah memutuskan harapan ummat. Keberadaan manusia-manusia yang masih terbuka pintu hatinya adalah tali penuntut masyarakat dalam mencari jalan pulang.

Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam sendiri diutus di tengah masyarakat yang rusak. Ajaran Hanifiyyah yang dibawa oleh nabi Ibrahim saja sudah tidak ada bekasnya di tengah masyarakat Arab. Rasulullah tumbuh besar di tengah jahiliyyah Arab, penyembah berhala, masyarakat pecinta arak dan zina. Andai kata Rasulullah mengeluh, “Masyarakat ini sudah rusak. Buat apalagi saya berdakwah kepada mereka.” Sudah pasti agama Islam ini tidak akan sampai kepada kita semua.

Rasulullah memang hijrah ke Madinah, namun bukan karena frustasi dan kecewa dengan masyarakat Makkah. Bukan. Namun dalam rangka strategis, membina kekuatan besar, membangun negara, sehingga mampu membuka Makkah dengan kekuatan Islam. Hingga akhirnya masyarakat di seluruh Jazirah Arab memeluk agama Islam, agama yang turun sebagai rahmat kepada seluruh alam.

Masyarakat Sedang Jauh dari Jalan Pulang, Tapi Kita Jangan Kecewa

Sesungguhnya pintu taubat itu senantiasa terbuka hingga dua hal datang menghampiri kita, kematian dan terbitnya matahari dari barat. Maka, selagi dua hal tersebut belum terjadi seorang yang menyebut dirinya ‘pendakwah’ tidak pantas untuk merasa kecewa dan ingin menghentikan dakwahnya.

Jalan dakwah memang tidak mudah, tidak populis, tidak dijanjikan dengan harta dan pengikut yang banyak. Ia adalah sebuah jalan yang ditaburi oleh duri-duri terpasang.

Ini adalah jalan yang ditempuh oleh nabi dan rasul. Bukan jalan yang ditempuh oleh manusia-manusia yang lalai dan lemah. Maka untuk menjadikan diri mampu istiqomah dalam jalan dakwah, perlulah seorang ‘pendakwah’ berkumpul dengan orang-orang yang memiliki visi yang sama dengannya, agar mampu saling menguatkan satu sama lain. Sebagaimana Rasulullah menggabungkan dirinya dengan manusia-manusia perkasa seperti Abu Bakar, Abdurrahman bin Auf, Umar bin Khaththab, Ustman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan dengan para sahabat yang luar biasa.

Masyarakat kita hari ini memang sedang jauh dari jalan pulang menuju cinta Ilahi. Di sinilah sebenarnya masyarakat sedang memerlukan sosok-sosok pemuda, pendakwah yang ikhlas dan mau bekerja keras demi kebermanfaatan kepada ummah.

Pendakwah itu tidak boleh cepat kecewa. Kita bukanlah perubah kondisi masyarakat. Kita hanyalah mata rantai yang menyambung perjuangan yang panjang ini.

Dakwah tidak berawal dari kita, dan tidak akan berakhir dengan kita. Tugas kita adalah memastikan bahwa dakwah ini diteruskan. Dengan kesungguhan dan keikhlasan.

Kehidupan ini Terlalu Singkat untuk Kekecewaan

Kehidupan ini terlalu singkat, kawan. Kehidupan terlalu sementara untuk kita isi dengan kekecewaan dalam berdakwah. Waktu terlalu sempit untuk kita lewatkan pergerakan dakwah kita dengan kesedihan dan keputusasaan.

Maka, bangkitlah dan bangunlah dirimu.

Ada sebab mengapa di dalam Al-Qur’an banyak diturunkan kisah-kisah para nabi terdahulu. Supaya kita termotivasi dan mampu bangkit dan meneruskan perjuangan Rasulullah dan para sahabatnya. Dimana mereka juga tidak luput dari seribu satu cobaan, rintangan dan ujian.

Demikian, dan sekarang adalah waktu untuk kita. Kembali kepada kisah-kisah tersebut meneguk hakikat dan makna kehidupan yang sementara dalam gemerlap dan keindahan jalan dakwah.

Mengambilnya sebagai obat, mengobati kekecewaan dan keputusasaan kita.

Kawan, perjalanan harus kita teruskan.

Demikian dakwah di sistem sekuler kapitalis saat ini memang tidak mudah, apalagi cita-cita kita begitu besar yaitu melangsungkan kembali kehidupan Islam kaffah yang pernah diterapkan Rasulullah SAW dan para sahabat.

Sistem yang rusak ini selalu punya cara agar para pengemban dakwah tumbang, menyerah bahkan kembali ke jalan batil apalagi dengan iming-iming dunia entah jabatan, harta, pangkat, popularitas dan sebaginya.

Tapi bagi pengemban dakwah sejati iming-iming dunia bukan segalanya karena apapun keadaan kita hari ini, kita tetap akan menghadap Allah melalui kematian dan kelak segala yang kita usahakan akan dihisab.

Oleh karena itu yuk terus:

1. Optimis bahwa janji Allah akan kembalinya kehidupan Islam kaffah adalah kepastian.
2. Terus menimba ilmu tiada jemu terutama ilmu agama Islam kaffah.
3. Dakwah sungguh-sungguh pada keluarga, masyarakat dan negara agar Islam kaffah diterapkan kembali seperti masa Rasulullah SAW dan para sahabat.
4. Berjuang hingga kita semua sejahtera dunia akhirat. 

Wallahu 'alam bissawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama