Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harapan Dan Ironi, Dibalik Kecerdasan AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | Oktober 11, 2026 WIB Last Updated 2026-10-11T15:51:50Z

Oleh : Amy Sarahza

Sebanyak 22 peneliti AI, termasuk Yoshua Bengio dan Geoffrey Hinton, menerbitkan riset yang memperingatkan pemerintah agar bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya ledakan kecerdasan.
Dalam hal ini, Anthropic dan OpenAI disebut telah sama-sama bersepakat meminta evaluator atau auditor independen untuk menilai model mereka setelah memperingatkan bahwa perkembangan AI telah melampaui batasan yang dianggap aman.

Meskipun berpotensi menghasilkan dampak positif, misalnya dalam bidang medis dan teknologi lainnya, ledakan kecerdasan juga membawa tiga kelompok risiko, yakni ancaman biologis dan siber, hilangnya kendali serta keterlibatan manusia, dan potensi ancaman perang antarnegara. (Wahananews.co 01 Oktober 2026)

Diera digitalisasi  segala sesuatu memang berkembang dengan sangat cepat, termasuk teknologi AI. Diawal muncul nya teknologi AI ini, mungkin akan membuat kita semua takjub dengan berbagai kemudahan yang dihasilkan oleh AI, selain kemudahan, teknologi AI juga membawa tantangan baru bagi penggunanya, AI memberi kemudahan saat proses belajar ( untuk pelajar dan mahasiswa), disisi lain membuat otak kita jadi malas berpikir karena AI dijadikan pilihan utama bukan pilihan terakhir. Bahkan cenderung membuat otak malas berpikir, karena mengandalkan AI sebagai sumber utama. Ketika AI dengan mudahnya memberikan jawaban, disitu proses berfikir tidak lagi diperlukan. Padahal jika digunakan dengan bijak dan penuh tanggungjawab, AI bisa memberi ide dan menambah kreatifitas dalam belajar, asal tidak meninggalkan proses kemampuan kita untuk berfikir, otak kita digunakan untuk memahami, menelaah, dan menarik kesimpulan dari jawaban AI yang kita gunakan. Persoalan akan muncul ketika seseorang menggunakan jalan pintas atau jalan ninja untuk mendapatkan jawaban saat belajar, yang dicari hanya hasil instan, dan kecepatan terselesaikan nya tugas.
Jawaban yang diberikan AI mungkin terlihat sempurna sehingga kemampuan berpikir tidak dibutuhkan lagi. Tetapi jika digunakan terus menerus mungkin saja seseorang akan selalu dapat menjawab segala pertanyaan atau tugas dengan sempurna, tetapi tidak bisa mengungkapkan maksud dan alasan dari jawaban yang dibuatnya, karena semua dijawab oleh alat yang cerdas yaitu AI.

Menghadapi krisis dalam berfikir seharusnya menjadi persoalan serius, karena seharusnya yang dihasilkan dari dunia pendidikan adalah orang-orang yang mampu melihat suatu persoalan, memfilter sumber informasi, menganalisis persoalan tersebut, membuat argumentasi dan bisa menarik kesimpulan dari setiap persoalan. Sayangnya kecerdasan AI sekarang sudah terlanjur digandrungi khalayak ramai dunia pendidikan dan menjadi candu. Hal ini akan menggeser tujuan tersebut dimana keberhasilan seseorang hanya dilihat dari hasil tugas yang dikerjakan. Kecanggihan teknologi AI tidak lagi memberi harapan tapi menjadi ironi ketika yang memanfaatkan AI menjadi manusia yang kehilangan sikap kritisnya saat berfikir.

Seharusnya edukasi pemanfaatan teknologi AI ditengah masyarakat bukan hanya cara menggunakan nya saja, tetapi masyarakat dibangun dengan pemikiran yang kritis tentang persoalan yang terjadi, cara memilih sumber informasi, memverifikasi jawaban, mengkritisi hasil jawaban AI, dan terus membangun gagasan  dengan proses berfikir sendiri.

Kekacauan literasi yang terjadi membuktikan bobroknya sistem pendidikan yang digaungkan oleh sistem sekuler. Dimana ilmu agama dan umum dipisahkan menjadi hal yang bertolak belakang. Sistem ini menghasilkan dokter ahli bedah, tapi buta fikih muamalah, atau menghasilkan insinyur yang jago membuat gedung pencakar langit yang megah tapi tidak tahu kaidah ushul fiqih. Ketika orang-orang hebat ini kebingungan tentang ilmu agama, mereka mencarinya di ustadz dan ustadzah AI. Umat Islam tidak akan bisa bangkit dari keburukan intelektual jika standar baik buruk nya masih membebek pemikiran diluar Islam.

Jika kita runut kembali, kekacauan dan ketidakberdayaan umat dalam mengontrol teknologi yang mereka konsumsi tidak akan bisa dihentikan hanya dengan imbauan kepada individu untuk bijak bersosial media, berpegang hanya dengan fatwa - fatwa yang digawangi alim ulama dari pemerintah. Masalah ini bukan cuma masalah personal melainkan sudah menjadi masalah struktural. Koorporasi raksasa Big Tech yang mendorong pemikiran masyarakat melalui AI disponsori oleh kebijakan politik dan ekonomi negara-negara adidaya Barat.

Oleh karena itu untuk menghadapi hegemoni sistem ini, hanya bisa dihadapi  dengan lawan yang setara yaitu institusi global yang bukan hanya memiliki otoritas keagamaan. Tetapi juga memiliki kekuatan politik dan ekonomi untuk membangun teknologi yang mandiri, yaitu Daulah Islam.
Sebagai sebuah institusi ideologi, Islam tidak akan menghadapi teknologi dengan ketakutan atau antipati. Sebaliknya, Islam akan menerapkan tiga pilar utama dalam menyikapi sains dan teknologi guna menyelamatkan akidah dan pemikiran umat.
Pertama, otoritas keilmuan yang sah. Islam akan mengembalikan otoritas fatwa dan ijtihad secara mutlak kepada para ulama mujtahid yang nyata, yang memiliki kualifikasi ketakwaan dan keilmuan mutawatir. Negara akan melarang keras penyematan status “rujukan hukum” kepada entitas mati seperti AI guna menjaga kemurnian hukum syarak.

Kedua, revolusi sistem pendidikan, Daulah Islam akan menghapuskan  pendidikan sekuler, yang digunakan sistem pendidikan Islam yang akan mengintegrasikan sains modern dengan pemahaman tsaqofah Islam yang kuat. Targetnya melahirkan ilmuan umum ( dokter, insinyur, pakar IT, dll) yang sekaligus menguasai ilmu-ilmu dasar agama, sehingga mereka memiliki kapasitas berfikir yang matang dan cemerlang. Para ahli yang tidak akan terkecoh dengan jawaban instan teknologi asing.

Ketiga, Kemandirian kebijakan Teknologi, Negara tidak akan membiarkan umat Islam menjadi konsumen pasif Big Tech asing. Menurut Syaikh Taqiyuddin An- Nabahani dalam kaifah hudimat Al-khilafah mengingatkan bahwa ketergantungan teknologi merupakan pintu masuknya invasi budaya Barat.

Kebijakan teknologi Islam akan menjadikan AI secara tegas berdasarkan kaidah usul fikih. Islam membedakan dengan jelas antara hadharah (ikatan pemikiran yang mempengaruhi pandangan hidup) dan madaniyah (bentuk fisik dari kemajuan ilmu pengetahuan/alat). Teknologi AI pada dasarnya adalah madaniyah umum yang bersifat mubah (boleh) untuk dimanfaatkan.

Oleh karena itu, Islam akan mengambil peran sebagai pemimpin dalam pengembangan penelitian AI, tetapi dengan posisi yang sahih. Pertama, AI sebagai alat bantu (khidmat). AI akan dioptimalkan secara masif sebagai alat bantu administrasi negara, penelitian ilmiah, penerjemahan kitab-kitab secara cepat, digitalisasi manuskrip kuno, hingga alat bantu bagi para ulama untuk melacak referensi teks hadist atau ayat secara instan. Kedua, AI bukan subjek hukum. AI mutlak diposisikan sebagai mesin pembawa data (mukhbir), bukan sebagai sumber hukum (mashdar al-ahkam) atau penentu fatwa. Ketiga, pemahaman algoritma Islami. Sistem Islam akan membangun infrastruktur superkomputer dan model bahasa besar (Large Language Model) mandiri. Database dan data latih (data pelatihan) AI tersebut akan dikurasi secara ketat oleh lembaga keulamaan negara berdasarkan kitab-kitab muktabar, murni bebas dari infiltrasi kebijakan konten liberal Barat.

Dengan kontruksi parsial ini, akan menjadi solusi hakiki Masalah teknologi kecerdasan AI ini tidak akan lagi menjadi alat sistem sekuler untuk menghancurkan Islam. Tetapi umat jadikan sebagai wasilah untuk kemajuan dan tersebarnya Islam yang Rahmatan Lil Alamiin keseluruh penjuru dunia. Oleh karena itu, hanya solusi inilah yang akan mengembalikan Sistem kehidupan Islam kaffah dan menjadikan Wahyu sebagai sumber hukum yang utama, sehingga lahirlah umat yang taat dengan syari'at dan para ulama yang memiliki otoritas penuh.
Wallahu'alam bisawab.
×
Berita Terbaru Update