Menerima Kenyataan Pahit Dengan Cara Islami


Oleh : Nina Iryani, S.Pd

Dilansir dari baznas.go.id:
perjalanan panjang yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan iman yang kuat. Tidak ada manusia yang langsung bisa ikhlas tanpa melalui proses. Namun, setiap langkah kecil menuju keikhlasan akan membawa ketenangan yang luar biasa.

Hidup akan terasa lebih damai ketika kita menyadari bahwa segala sesuatu terjadi karena kasih sayang dan kebijaksanaan Allah. Dengan terus belajar ikhlas menerima kenyataan hidup, hati kita akan semakin siap menghadapi apapun yang terjadi, tanpa menyalahkan siapa pun, bahkan diri sendiri.

Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. At-Taghabun ayat 11:
"Tidak ada musibah yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; dan barang siapa beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya."

Rasulullah SAW bersabda:

"Dari Auf bin Malik RA bahwa Rasulullah SAW memutuskan perkara di antara dua orang. Orang yang berperkara ketika berpaling mengucap: Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl. Rasulullah kemudian bersabda: Allah mencela kelemahan. Sebaliknya, kau harus kuat. Jika kau dirundung oleh suatu masalah, hendaknya mengucap: Hasbiyallāhu wa ni‘mal wakīl". 
(HR Abu Dawud, An-Nasai, dan Al-Baihaqi).

Ikhlas bukan sekadar menerima, tetapi mempercayai bahwa setiap takdir membawa jalan menuju kebaikan yang lebih besar.

Tidak ada manusia yang sempurna, tidak ada manusia yang hidup tanpa masalah, tidak ada pula manusia yang hidupnya selalu mulus tanpa pernah berbuat salah. 

Boleh jadi kenyataan pahit itu akibat ulah kita sendiri karena kebodohan atau ketidak tahuan kita, boleh jadi pula kenyataan pahit memang takdir Allah sebagai ladang amal kita memperbaiki keadaan, memperbaiki diri dan jalan mengumpulkan pahala bekal masuk surga.

Apalagi di sistem sekuler sekarang yang membuat manusia terlena dunia, kenyataan pahit dijadikan alasan bunuh diri karena tak mampu menerimanya, atau depresi berlebihan, stress, atau berbuat dosa untuk mengatasi masalah yang ada, atau menggunakan hal-hal yang merugikan diri sendiri. 

Bagaimana tidak beragam kejahatan dan kemaksiatan dihukum ringan bahkan tidak dihukum samasekali asal ada uang, jabatan, pengaruh atau orang dalam. 

Sehingga para pelaku kejahatan bebas berperilaku atau mengulang kesalahan yang sama bahkan bisa lebih keji lagi baik itu korupsi, suap, penyeludupan barang, mencuri, menipu, membunuh, zina, minum khamr, berjudi, tawuran dan sebaginya.

Seolah sistem kapitalis ini surga dunia nya orang-orang dzalim.

Lain hal nya dengan sistem Islam kaffah yang menerapkan kebaikan dunia akhirat, hukum-hukum diterapkan dengan sangat adil, kejahatan dalam bentuk apapun dihukum setimpal sesuai hukum Allah SWT. Nyawa dibayar nyawa dengan kisos, potong tangan bagi pencuri, dirajam atau dicambuk untuk pezina dan sebaginya. 

Oleh karena nya hukum Islam harus diterapkan kembali agar menjadi efek jera dan pencegahan bagi pelaku kejahatan dalam bentuk apapun. Begitu pun bagi yang sedang dalam masalah sesulit apapun selalu ada hukum Islam yang adil. Kenyataan pahit apapun, bagi muslim sejati yakin Allah punya solusi terbaik. Muslim sejati tak berputus asa, selalu yakin akan pertolongan Allah, menerima segala kenyataan pahit dan manis demi mengejar ridho Allah SWT.

Oleh karena itu:

1. Tetap sabar, kuat dan semangat dalam menghadapi segala kesulitan hidup dengan terus belajar sungguh-sungguh ilmu-ilmu bermanfaat terutama ilmu agama Islam kaffah.
2. Yakin Allah maha penolong, maka teruslah dakwah jamaah pada keluarga, masyarakat dan negara agar Islam kaffah diterapkan kembali seperti masa Rasulullah SAW.
3. Berjuang meski dalam keadaan tidak baik-baik saja hingga kita semua sejahtera dunia akhirat.

Wallahu 'alam bissawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama