KONSESI LAHAN, RAKYAT JADI KORBAN


Oleh: Ummu Aulia*  
_Muslimah Pejuang Peradaban_

Kebakaran Hutan dan Lahan yang terjadi di Kalimantan, Riau, dan Jambi tidak hanya membakar hutan. Api sudah merambat ke rumah warga. Asap tebal menyerang pernapasan, membuat rumah sakit penuh pasien ISPA, dan telah menelan korban jiwa. Bahkan asapnya meluas hingga ke negara tetangga.

Negara-negara ASEAN yang terdampak telah melayangkan protes dan menilai Indonesia tidak mampu menangani Karhutla.

Kalimantan merupakan salah satu paru-paru dunia. Kebakaran dalam skala luas ini jelas merugikan banyak pihak, termasuk negara tetangga.

Ini bukan bencana alam biasa. *Ini adalah akumulasi kejahatan negara-korporasi yang serakah.*  
Demi membuka lahan sawit baru dan menghemat biaya produksi, para pemilik modal mengerahkan orang untuk membakar hutan. Mereka tidak memedulikan dampaknya: hilangnya nyawa satwa yang berlindung di hutan, serta penderitaan manusia di sekitarnya. 

Nyawa rakyat dikorbankan demi kepentingan oligarki. Hal ini tidak lepas dari peran negara yang memfasilitasi izin konsesi kepada korporasi.

#### *AKAR MASALAH: KEGAGALAN SISTEM KAPITALISME*

Setiap tahun Karhutla terulang. Saat terjadi, pemerintah sibuk menggelontorkan APBN untuk helikopter, _waterbombing_, dan mengerahkan personil. Namun akar masalahnya tidak pernah disentuh. Tidak pernah dibahas mengapa hutan bisa terbakar dan bagaimana seharusnya tata kelola hutan yang benar.

Faktanya, hutan tetap diserahkan kepada korporasi melalui izin konsesi. Tujuannya hanya mengejar keuntungan, dengan mengabaikan keselamatan rakyat dan kelestarian hutan *[Kompas.id]*.

Ini terjadi karena dalam sistem kapitalisme, hutan dianggap sebagai komoditas. Negara menyerahkan pengelolaan hutan kepada korporasi dan kroninya. Siapa yang memiliki modal, dialah yang menguasai hutan. 

Akibatnya pembakaran hutan untuk pembukaan lahan sawit diizinkan dengan dalih "efisien". Padahal hutan adalah paru-paru dunia dan sumber kehidupan bagi jutaan rakyat serta makhluk hidup di dalamnya.

Lebih parah lagi, penguasa dalam sistem ini tidak berperan sebagai _raa’in_. Akibatnya nyawa rakyat kembali dikorbankan demi kepentingan segelintir korporasi.

#### *SOLUSI ISLAM: NEGARA SEBAGAI RAA’IN*

Berbeda dengan kapitalisme, Islam memiliki solusi tuntas. Islam memandang negara sebagai pelayan rakyat, bukan pelayan korporasi.

Menjaga nyawa adalah kewajiban utama negara. Rasulullah ï·º bersabda:  
_“Setiap dari kalian adalah raa’in/pemimpin yang bertanggung jawab, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya.”_  
*HR. Bukhari No. 893 dan HR. Muslim No. 1829*

Rasulullah ï·º juga bersabda di depan Ka’bah:  
_“Alangkah wangi dirimu, alangkah agung kehormatanmu. Demi Dzat yang jiwa Muhammad di tangan-Nya, sesungguhnya kehormatan seorang Muslim lebih agung di sisi Allah daripada kehormatanmu.”_  
Maknanya jelas. Ka’bah adalah rumah paling mulia, tetapi nyawa satu Muslim lebih agung di sisi Allah.

Karena itu negara wajib membangun infrastruktur untuk pemadaman dan pencegahan kebakaran. Meski harus mengeluarkan dana besar, tidak boleh ada alasan "tidak ada anggaran" ketika nyawa rakyat taruhannya.

Islam juga mengembalikan hutan sebagai milik umum. Rasulullah ï·º bersabda:  
_“Manusia berserikat dalam tiga hal: air, padang rumput, dan api.”_  
*HR. Ibnu Majah No. 2473*

"Padang rumput" mencakup hutan. Artinya hutan haram dikuasai perseorangan atau korporasi. Tugas negara adalah mengelola hutan sesuai fungsinya. Hasilnya digunakan untuk kemaslahatan umat, bukan untuk pribadi dan segelintir korporasi.

Selain itu, Khilafah akan memberikan hukuman yang tegas dan menjerakan bagi pelaku maupun dalang di balik kebakaran hutan. Baik dilakukan korporasi maupun perorangan. Karena membakar hutan adalah kejahatan besar yang menghilangkan nyawa dan membuat rakyat menderita.

Dengan sistem ini, negara tidak hanya memadamkan setelah kebakaran terjadi, tetapi fokus utama adalah pencegahan agar kebakaran tidak terjadi sama sekali.

#### *PENUTUP*

Karhutla adalah bukti nyata kegagalan kapitalisme dalam menjaga nyawa rakyat.  
Selama hutan masih diprivatisasi dan negara memfasilitasi korporasi, maka kebakaran hutan akan berulang setiap tahun.

Sampai kapan kita memakai sistem yang tidak menghargai nyawa manusia?

Saatnya kembali kepada sistem Islam dalam naungan Khilafah Islamiyah. Sistem yang mengembalikan hutan sesuai fungsinya dan menegakkan hukum syariat yang memuliakan nyawa manusia.

Allah SWT berfirman:  
_“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”_  
*QS. Al-A’raf: 56*

_Wallahu a’lam bishawab_

---
 *DAFTAR REFERENSI*
Kompas.id. "Karhutla Kalbar Meluas, Asap dari Gambut Kepung Permukiman".  
Detik.com Kalimantan. "Saat Kabut Asap Karhutla Merenggut Nyawa Warga Kalimantan".  
BNPB.go.id. "Perkembangan Situasi dan Penanganan Karhutla - 5 September 2026".  
Detik.com BBC World. "Negara-negara ASEAN Protes Kabut Asap Karhutla Indonesia".  
WALHI.or.id. "Karhutla sebagai Kejahatan Negara-Korporasi".  
*HR. Bukhari No. 893* - Kitab Al-Ahkam  
*HR. Muslim No. 1829* - Kitab Al-Imarah  
*HR. Ibnu Majah No. 2473* - Kitab Ar-Ruhun. Dihasankan Al-Albani  
*QS. Al-A’raf: 56*

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama