Ekonomi Makin Sulit, Kebutuhan Healing Makin Meningkat : Ada Apa dengan Gen Z

Ekonomi Makin Sulit, Kebutuhan Healing Makin Meningkat : Ada Apa dengan Gen Z

Oleh : Indah Kania

Tanggal gajian tiba. Notifikasi transfer masuk ke telepon genggam. Dalam hitungan menit, sebagian pekerja muda langsung membuka aplikasi mobile banking untuk membayar sewa tempat tinggal, tagihan listrik, dan berbagai kebutuhan bulanan yang tak bisa ditunda. Setelah kewajiban selesai, sebagian lainnya mulai membuka keranjang belanja daring yang telah diisi sejak beberapa hari sebelumnya.

Ada yang membeli lipstik dan parfum baru, memesan kopi atau matcha, memperpanjang langganan layanan musik digital, mencoba restoran yang sedang ramai diperbincangkan, menonton film di bioskop, hingga berburu tiket konser.

Fenomena semacam ini kini menjadi bagian dari keseharian sebagian Gen Z. Di media sosial, kebiasaan tersebut dikenal dengan berbagai istilah seperti self-reward, little treat, atau healing tipis-tipis. Membeli sesuatu setelah menerima gaji dianggap sebagai bentuk penghargaan kepada diri sendiri setelah bekerja keras selama sebulan.

Sekilas, kebiasaan ini memang terlihat seperti perilaku konsumtif. Namun, bagi sebagian Gen Z, pengeluaran tersebut justru dianggap sebagai kebutuhan emosional. Setelah menghadapi rutinitas pekerjaan, tekanan hidup, dan berbagai tuntutan, mereka merasa perlu memberikan sedikit kesenangan untuk dirinya sendiri.

Fenomena tersebut menjadi semakin menarik jika dilihat dari kondisi finansial generasi muda. Lebih dari 48% Gen Z mengaku tidak merasa aman secara finansial. Artinya, hampir separuh generasi ini masih merasakan ketidakpastian dalam kondisi ekonominya.

Di satu sisi, mereka menghadapi biaya hidup dan berbagai kebutuhan yang harus dipenuhi. Di sisi lain, pengeluaran untuk self-reward, healing, dan gaya hidup justru tetap dilakukan, bahkan cenderung meningkat. Konsumsi tidak lagi dipandang semata-mata sebagai kemewahan, tetapi sebagai cara untuk memperoleh kesenangan sekaligus meredakan tekanan psikologis.

Di sinilah muncul sebuah paradoks: ketika kondisi finansial belum aman, mengapa pengeluaran untuk kesenangan justru tetap menjadi pilihan?

Apakah Gen Z memang semakin konsumtif dan tidak mampu mengendalikan diri? Ataukah ada persoalan yang lebih besar di balik fenomena self-reward dan healing ini?

Jika hanya menyalahkan perilaku individu, kita akan berhenti pada kesimpulan bahwa Gen Z sekadar boros dan tidak pandai mengelola keuangan. Padahal, fenomena tersebut perlu dilihat lebih jauh karena terjadi di tengah tekanan ekonomi, budaya konsumtif, dan perubahan cara generasi muda memaknai kebahagiaan.

Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar tentang apa yang dibeli Gen Z setelah menerima gaji, tetapi tentang mengapa mereka merasa harus membeli sesuatu untuk merasa bahagia setelah menjalani kehidupan yang penuh tekanan.

Bukan Sekadar Masalah Boros

Di balik fenomena tersebut, ada tekanan ekonomi yang nyata. Biaya hidup terus meningkat, sementara mendapatkan pekerjaan dengan penghasilan layak tidak selalu mudah. Generasi muda akhirnya dituntut untuk mampu memenuhi kebutuhannya sendiri, bahkan ketika kondisi ekonomi tidak selalu berpihak kepada mereka.

Inilah salah satu wajah kapitalisme: kebutuhan hidup banyak diserahkan pada kemampuan individu. Ketika hidup terasa semakin berat, solusi yang ditawarkan pun kembali kepada individu—tingkatkan skill, cari pekerjaan tambahan, atur keuangan, dan bekerja lebih keras.

Di saat yang sama, budaya sekuler-liberal menawarkan konsumsi sebagai jalan menuju kebahagiaan. Media sosial terus menghadirkan tren, iklan, gaya hidup, dan standar kesenangan yang membuat seseorang takut tertinggal (FOMO).

Akhirnya terbentuk siklus sederhana:

tertekan → mencari kesenangan → konsumsi → bahagia sesaat → kembali tertekan.

Namun ada persoalan yang lebih dalam: krisis tujuan hidup.

Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, ukuran bahagia mudah bergeser menjadi materi, popularitas, pengalaman, dan kemampuan memenuhi keinginan. Akibatnya, self-reward bukan lagi sekadar menikmati rezeki, tetapi bisa berubah menjadi cara untuk mencari makna dan kebahagiaan.

Padahal Allah SWT telah menjelaskan:

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”
(QS. Adz-Dzariyat: 56)

Artinya, manusia tidak diciptakan sekadar untuk bekerja, membeli, menikmati, lalu mengulang siklus yang sama. Ada tujuan yang jauh lebih besar dalam kehidupan.

Islam Kaffah: Menyelesaikan Masalah dari Akarnya

Karena persoalan Gen Z bukan hanya persoalan individu, maka solusinya pun tidak cukup dibebankan kepada individu.

Islam tidak hanya datang dengan nasihat agar manusia hidup hemat dan tidak berlebihan. Islam juga memiliki seperangkat aturan untuk mengatur kehidupan masyarakat dan negara.

Dalam pandangan Islam, negara memiliki tanggung jawab sebagai pengurus urusan rakyat. Negara tidak boleh membiarkan rakyat, termasuk generasi muda, berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Negara wajib mengatur ekonomi dengan memastikan kebutuhan dasar rakyat dapat terpenuhi. Lapangan kerja dan aktivitas ekonomi harus dikelola dengan kebijakan yang memungkinkan para pencari nafkah memperoleh penghidupan yang layak.

Sementara itu, sumber daya alam yang merupakan milik umum tidak boleh diserahkan untuk dikuasai segelintir pihak. Pengelolaannya harus dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat.

Dengan demikian, kehidupan masyarakat tidak dibangun berdasarkan prinsip “siapa yang kuat, dia yang bertahan”, sebagaimana karakter sistem kapitalisme.

Inilah perbedaan mendasar dengan sistem kapitalisme: Islam menempatkan negara sebagai pengurus dan pelindung rakyat, bukan sekadar regulator kehidupan ekonomi.

Namun, Islam tidak hanya menyelesaikan persoalan ekonomi.

Islam juga membangun lingkungan kehidupan yang menjaga manusia dari pemikiran dan gaya hidup yang merusak. Media tidak dibiarkan hanya menjadi alat untuk memproduksi tren, memancing hasrat konsumsi, dan menanamkan standar kebahagiaan yang semu.

Media memiliki peran untuk memberikan informasi, mencerdaskan masyarakat, dan menguatkan nilai-nilai Islam.

Islam tidak melarang manusia menikmati kehidupan. Namun, Islam memberikan batasan agar manusia tidak tenggelam dalam sikap berlebih-lebihan.

Allah SWT berfirman:

“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”
(QS. Al-A'raf: 31)

Dengan aturan Islam, manusia tidak dipaksa menjadi makhluk yang hanya bekerja untuk memenuhi kebutuhan materi. Sebaliknya, manusia diarahkan agar mampu menjalani kehidupan dengan keseimbangan yang benar: memenuhi kebutuhan dunia tanpa melupakan tujuan akhirat.

Bukan Hanya Butuh Healing

Gen Z tidak sekadar membutuhkan nasihat agar lebih hemat atau lebih pandai mengatur keuangan.

Mereka membutuhkan kehidupan yang lebih sejahtera sekaligus tujuan hidup yang benar.

Islam kaffah memberikan keduanya: negara yang bertanggung jawab mengurus kebutuhan rakyat dan sistem kehidupan yang membentuk manusia dengan akidah Islam.

Sebab, generasi yang tahu untuk apa ia hidup tidak akan mudah menjadikan konsumsi sebagai sumber kebahagiaan.

Gen Z bukan hanya butuh healing. Mereka butuh arah hidup. Dan Islam telah memberikan arah itu.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama