Suasana bulan ini paling berbeda dibanding bulan-bulan lain di Indonesia. Di mana-mana pemandangan didominasi warna merah dan putih, sekalipun bukan bendera. Perkantoran, mall, masjid, bahkan gang sempit masuk kampung pun diberi gapura dengan gambar pejuang memegang bambu runcing warna merah dan putih.
karena ini Agustus 2026, bertepatan dengan HUT RI ke-81 tahun. Di seluruh wilayah nusantara diadakan berbagai macam lomba atau pertandingan olahraga, mulai dari voli, sepak bola, makan kerupuk, lari kelereng, balap karung. Menyaksikan orang mengekspresikan HUT kemerdekaan ini, kadang kita bertanya-tanya apakah benar kita sudah merdeka?
Katanya merdeka, kenapa penegak keadilan korupsi mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Ardiansyah ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi terkait batu bara, PLTU, PT Asabri, dan PT Krakatau Steel? Penyidik menyita barang bukti uang tunai Rp476 miliar dan 74 kg emas batangan (dw.com/Detik, 10-07-2026).
Katanya merdeka, kenapa utang Republik Indonesia pada kuartal I 2026 menembus Rp9.920,42 triliun. Bayar bunga utang ribanya saja
Akhirya Rakyat yg menanggung bayar utang juga yaitu rakyat dikenakan pajak.
Katanya merdeka, kemiskinan bertambah banyak dan pengagguran juga.
Katanya merdeka, kenapa makan kena pajak, beli barang kena pajak, motor dan mobil kena pajak, tanah dan bangunan kena pajak PBB? Memangnya tanah air ini masih milik siapa?
Saat ini hukum Allah tidak diterapkan, yang diterapkan hukum buatan manusia, maka tidak ada efek jerah.
Dan saat ini masyarakat terbelit dengan yang namaya riba, apakah ini yang dinamakan merdeka?
Oleh karena itu, secara hakiki kita belum merdeka, sampai semua syariat Islam diterapkan menjadi satu-satunya hukum dan konstitusi negara. Semoga seluruh negeri sekarang sudah paham masalah mendasar ini, agar iman kita tetap lurus dan terjaga di zaman yang penuh fitnah, serta penuh dengan serangan masif ide-ide asing(sekularisme-kapitalisme Barat). Allahu Akbar!
Wallahu ‘alam bishawab
Tags:
Opini
