(Aktivis peduli umat)
Asap karhutla belom lagi hilang, kini datang lagi ujian bagi udara Indonesia. Abu vulkanik yang kini hadir di langit Negeriku. Awal September 2026, Indonesia seperti di uji secara bertubi-tubi, Anak Krakatau meletus hingga 25 jam nonstop.(detikNews 10-9-2026). Abunya sampai ke Jakarta, Depok, Bogor, dan 8 bandara di tutup akhirnya 170 ribu penumpang terlantar.
Bersamaan dengan itu, Gunung Sinabung, Semeru, lewotolok, Merapi, dan Gunung Ibu. Enam gunung sekaligus dalam keadaan siaga 3.(CNN.Indonesia 7-9-2026)
Pusat vulkanologi dan mitigasi bencana geologi (PVMBG) dan Badan nasional penanggulanggan bencana (BNPB) kembali siaga, masker dibagikan, sekolah diliburkan, hingga himbauan jarak aman disebarkan.
Namun pertanyaannya sampai kapan kita hanya reaktif? Hanya menunggu kejadian dahulu barulah ada tindakan nyata. Sudah saatnya untuk kita bicara jujur, erupsi bukan bencana, yang bencana sebenarnya adalah menajemen negara dalam menghadapinya.
Negara terlalu jago untuk padamkan api namun selalu gagal mencegah api itu timbul.
PVMBG sudah bekerja dengan sangat baik dalam mendeteksi. Akan tetapi deteksi tanpa ada mitigasi (upaya untuk mengurangi dampak buruk bencana sebelum terjadi) sama saja bohong. Di mana posko permanen tiap desa rawan? Di mana gudang logistik masker? Adakah obat dan air bersih yang selalu siap? Di mana latihan evaluasi warga yang dilakukan secara rutin? Tidak ada, semua hanya menunggu saat status naik. Anggaran baru digelontorkan saat bencana terjadi. Akibat negara selalu keteteran dan rakyat yang menjadi korban pertama. Ini ciri khas pada sistem demokrasi, ada masalah dahulu baru pikirkan solusi, bukan mencegah masalah sebelum terjadi.
Lihatlah Ibu-ibu di lereng Merapi, saat abu setebal 2 cm turun, mereka harus bolak-balik menyapu atap rumah agar tidak roboh akibat keberatan abu.
Anak-anak di SD dekat Sinabung harus belajar di teras masjid karena sekolah mereka diliburkan selama 2 pekan.
Para petani di Lumajang harus mengalami gagal panen cabai karena daunnya gosong akibat abu vulkanik.
Disisi lain, harga masker N95 di apotek dari harga 2ribu rupiah menjadi 15 ribu rupiah per biji. Inikah bentuk negara yang hadir? Rakyat berjuang dengan banting tulang sendirian, namun negara baru hadir saat ada korban jiwa berjatuhan.
Ini semua adalah peringatan dari Allah Swt. Erupsi, abu, gempa, asap adalah tanda-tanda dari kebesaran Allah agar manusia kembali tunduk dan taqwa. Allah Swt berfirman dalam Al-Qur'an yang artinya "Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar." (QS Ar-rum ayat 41)
Bencana tidak datang begitu saja. Ada sebabnya. Ketika amanah disia-siakan, ketika hutan dirusak, ketika rakyat dibiarkan tinggal di zona merah rawan bahaya demi keuntungan, maka itulah bentuk kerusakan yang dimaksud oleh ayat di atas.
Sudah waktunya untuk kita lebih bijak dalam mengelola resiko. Erupsi tidak dapat kita lawan ataupun kita kalahkan. Namun dampaknya dapat kita minimalkan. Dengan upaya seperti apa hal ini dapat dilakukan? Dengan tata kelola yang tepat, mitigasi menjadi anggaran wajib, dan kembalikan sumber daya milik umum sebagai milik umum, jangan diprivatisasi ke korporasi yang hanya mengejar keuntungan semata. Negara wajib mengelola untuk kemaslahatan umat.
Dalam Islam, negara wajib memiliki Baitul mal khusus kebencanaan, dengan sumber dana hasil pengelola sumber daya alam, dan lainnya. Dana diambil dan dipergunakan untuk kepentingan antisipasi bencana seperti, pembuatan posko dan gudang logistik permanen di titik-titik rawan, subsidi perumahan bagi warga di zona merah agar direlokasi ketempat yang lebih aman, dan jaminan harga masker dan obat-obatan disaat keadaan darurat agar tidak ada yang namanya permainan harga.
Dalam pandangan Islam, penguasa adalah raa'in. Wajib menjaga dan melindungi rakyatnya. Baik itu dalam keadaan aman maupun saat terjadi bencana. Rasulullah sebaik-baik teladan, beliau mencontohkan bahwa negara wajib menjamin kebutuhan dasar rakyatnya seperti keamanan, kesehatan, dan harta. Saat abu turun seperti saat ini, negara wajib menjamin udara bersih bagi rakyatnya dengan membagikan masker gratis bukannya malah jadi objek bisnis. Tiba-tiba muncul banyak perusahaan masker di pasar dan harganya pun menjadi relatif lebih mahal, karena situasi darurat semua orang butuh dan pasti membeli.
Saat evaluasi, negara wajib menjamin tempat tinggal yang layak bagi para pengungsi dan memastikan setiap kebutuhan dasar mereka terpenuhi seperti makanan, pakaian, obat-obatan dan air bersih.
Saat gagal panen terjadi akibat abu, negara wajib menjamin kebutuhan pangan rakyatnya.
Sebab semua adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh sang pemberi amanah.
Jadi tidak hanya meminta rakyat sabar dan menghimbau agar memakai masker namun negara abaikan perannya. Bukan pula dengan melemparkan tanggung jawab mengurus rakyat dalam atasi bencana kepada donasi.
Penutup
Jangan sebut erupsi sebagai bencana alam hanya untuk menutupi gagalnya manajemen negara yang buruk ini.
Sebelum ada gunung berikutnya yang erupsi, mari kita bertanya: apakah negara sudah siap untuk melindungi rakyatnya?
Wahai penguasa, wahai rakyat sekalian marilah kita bertaqwa.
Perbanyak istighfar, jaga alam dengan baik, dan menuntut negara menjalankan syari'at Islam secara kafah. Karena sesungguhnya hanya dengan taqwa dan penerapan aturan Allah dalam kehidupan sehari-hari dan bernegara maka keamanan, keselamatan, dan keberkahan akan turun untuk negeri ini.
Wallahu a'lam bishawab
Tags:
Opini
