Karhutla Berulang, Ancaman Mengintai Perempuan dan Generasi


Sudah beberapa pekan berlalu dari viralnya kasus kebakaran hutan dan lahan ( karhutla) baik di Sumatra, Kalimatan dan titik lain di Indonesia. Realitanya sudah pasti kualitas udara makin buruk dan makin membuat khawatir seluruh masyarakat. Paparan asap memicu gangguan asap yang mematikan, memperburuk orang penderita asam, dan mengancam nyawa anak didik. 

Menurut data 50.891 kasus ISPA dilaporkan dari berbagai wilayah terdampak. Karhutla dan dampaknya tersebar di 7 provinsi utama meliputi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Jambi, Riau, dan Sumatera Selatan. Ibu Hamil dan Anak-anak tercatat sebagai kelompok yang paling rentan dan banyak mengalami gangguan kesehatan ini.  Di Kalimantan Selatan saja, tercatat sebanyak 13.808 kasus ISPA selama Agustus 2026, sementara Riau mencatat 3.293 kasus dan Kalimantan Barat melaporkan ratusan ribu kasus sejak awal tahun. 

Ancaman Generasi VS Kebijakan Pemerintah 

Dengan banyaknya korban dari kasus karhutla ini, sekolah sekolah justru tidak diliburkan total. Fakta dilapangan sekolah mulai dari TK, SD , SMP, SMA, perguruan tinggi tetap beraktivitas seperti dengan imbauan wajib mengenakan masker saat di luar. Dan ada juga beberapa sekolah yang membuat jam pelajaran diperpendek, masuk tidak terlalu pagi dan pulang lebih awal. Alasan nya kalau sekolah diliburkan akan berdampak pada program MBG. Kalau MBG libur dapur sppg pun atomatis berhenti beroperasi. Dan dikhawatirkan kalau diliburkan anak-anak malah asyik main di luar mencari hiburan, nongkrong dicafe yang akan memicu masalah baru.

Bahkan ada pernyataan dari Kadisdik KalTeng, Muhammad Reza Prabowo bahwa mereka menolak kebijakan belajar daring di rumah dengan alasan demi berjalan nya program MBG dan aktivitas kantin. Sungguh ironis memanggil , seolah para pemangku kebijakan di negara ini kehilangan sense of crisis. Di mana mereka lebih mengutamakan program populis di atas nyawa dan kesehatan paru-paru generasi penerus bangsa.

Beban Berlapis Perempuan Di tengah Kepulan Asap

Bukan cuma generasi penerus bangsa, para perempuan pun menjadi salah satu yang terdampak akibat kasus karhutla ini terkhusus perempuan hamil. Yang pertama kali dirasakan adalah pukulan ekonomi, Bagaimana tidak akibat kabut asap sumber penghasilan masyarakat jadi terhambat. Salah satu yang terdampak adalah petani, kebun dan sawah disaat musim kemarau ditambah karhutla, membuat tanah kering bahkan sudah banyak sawah retak-retak akibat kekurangan air. Hasil perkebunan pun tidak sebanyak biasa, karena dimusim kemarau tanah sedang tidak bersahabat ditambah lagi kabut asap yang mengganggu aktivitas ke sawah dan kebun. Sehingga para petani tidak bisa maksimal dalam menggarap lahan nya yang beresiko pulang pada hasil yang mereka dapat. 
Saat kemarau begini dikawasan sulit air, terjadi panik buyying terhadap air galon. Mereka berlomba-lomba dan berebut air galon sampai berakibat air galon pun ikut langka. Padahal air adalah sumber utama kehidupan sehari-hari masyarakat. Dan ini juga membuat pengeluaran membengkak, karena air pun harus membeli dengan harga mahal akibat kelangkaan nya tadi. Saat sudah begini siapa yang bisa diandalkan?
Kedua krisis kesehatan, perempuan terutama ibu hamil saat kabut asap seperti ini akan kehilangan lingkungan sehat, ibu dan janin setiap hari akan menghirup udara yang penuh asap, walaupun ada banyak yang bisa duduk nyaman di dalam rumah yang kedap udara.  dan ber-AC, tetapi miris nya banyak juga warga yang cuma mengandalkan kipas angin dan ventilasi jendela.

Perempuan khusus nya ibu hamil dan menyusui harus kuat dan sehat ditengah kasus kabut asap ini, karena bisa jadi dirumah selain mengasuh janin yang didalam perut, ada anggota keluarga lain juga yang sedang sakit akibat kabut asap.

Mengapa Lahan Gambut Terbakar?

Karhutla dilahan gambut bukanlah bencana alam murni, melainkan hasil dari pengeringan yang disengaja, ditambah sekarang di Indonesia sedang musim kemarau. Kondisi asli dan alami lahan gambut itu seharusnya basah dan hidup, tetapi fakta nya kondisi lahan gambut di Indonesia kritis, kering dan mati. Lahan gambut juga tidak pernah menghasilkan api sendiri. Pengeringan akibat pembuatan kanal atau alih guna lahan mengubahnya menjadi bahan bakar organik raksasa, kalau ada satu saja titik api kecil booommm! Ini akan memicu bencana masif. Walaupun sudah diwater boombing tidak akan bisa mematikan api yang luas dan berlapis sampai bawah.

Bagaiman Solusi Islam Dengan Kasus Karhutla Yang terus Berulang?

Akar masalah dari karhutla Berulang ini, pertama gejala yang terlihat dipermukaan adalah kebakaran hutan dan lahan berulang, kedua pengeringan ekosistem gambut, alih guna lahan yang masif dengan dalih kemarau, ketiga  penyakit sistemik kapitalisme yang memandang hutan dan lahan sebagai komoditas ekonomi, yang bisa dimilikinsecara pribadi dan di eksploitasi sesuka hati .
Dalam sistem Islam, hutan itu pertama ,dipandang sebagai amanah dari Allah SWT , sebagaimana firman Allah:

وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْن.  

     Janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diatur dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat baik.(Q.s Al A'raf: 56).

Sebagaimana amanah, baik individu masyarakat dan negara akan saling menjaga dan memelihara nya dengan baik karena akan dimintai pertanggungjawaban dunia dan akhirat.

Kedua, status kepemilikan hutan dalam perspektif Islam adalah milkiyah ummah ( milik umum), sebagaimana hadist Rasulullah 
" manusia berserikat atas tiga hal : air, Padang rumput, dan api". ( HR Ahmad).
Menurut Syekh Abdul Qadim Zallum, aturan ini tidak terbatas pada   3 hal tersebut, melainkan mencakup semua sarana umum yang menyangkut hajat hidup orang banyak, dan hutan termasuk didalamnya. Sehingga hutan mutlak tidak boleh diprivatisasi apalagi dieksploitasi sesuka hati.

Terakhir peran negara adalah sebagai raa'in ( pengurus) dan junnah ( pelindung), sabda Rasulullah:
إِنَّمَا الإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
"Sesungguhnya seorang imam (pemimpin) itu laksana perisai. Ia dijadikan rujukan orang-orang untuk berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Muslim).
Dalam Islam sekalipun ada terjadi bencana, negara akan menjadi raa'in daa junnah pertama bagi seluruh masyarakat nya, kesehatan masyarakat apalagi ibu hamil, menyusui dan anak-anak akan dijamin oleh negara dengan layanan terbaik, termurah bahkan gratis.

Hanya dengan sistem Islam dibawah naungan khilafah Islamiyyah,yang berasal dari sang pencipta ( Al- Khaliq )dan pengatur ( Al- Muddabbir) kehidupan kita yang layak digunakan mengatur seluruh problematik dimuka bumi biar keseimbangan alam bisa dirasakan semua makhluk hidup dimuka bumi, Islam Rahmatan Lil alamiin. Wallahu'alam bisawab.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama