(Aktivis peduli umat)
Kampus itu ramai, gedungnya tinggi, teman kuliahnya banyak. Dosen ada, sahabat ada, bahkan pacar pun ada. Ibu kantin dan pelayan juga ada.
Tapi pada hari Kamis, 10 September lalu, seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, RR (19 tahun), diduga mencoba mengakhiri hidupnya sendiri dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus. Dari hasil penyelidikan terhadap saksi-saksi seperti rekan kuliah, dosen, hingga pacarnya, Polisi menyebut motifnya dipicu masalah asmara. (detikNews,12-9-2026)
Usia 19 tahun. Mahasiswi kedokteran. Pintar. Masa depan cerah. Kenapa bisa putus asa hanya karena masalah asmara?
Jawabannya bukan karena dia lemah. Tapi karena sistem yang membuatnya lemah.
*Sekularisme Mencabut Akar, Manusia Tumbang Saat Diterpa Angin*
Sistem sekuler (memisahkan agama dari kehidupan) hari ini mengajarkan: hidupmu adalah urusanmu. Tuhan cukup di masjid, jangan dibawa ke kampus, ke percintaan, ke masalah hidup apalagi urusan negara.
Akibatnya generasi kita kehilangan pegangan. Saat nilai anjlok, saat dimarahi dosen, saat putus cinta, tidak ada yang membisikkan "Ini ujian dari Allah, kamu pasti kuat."
Tanpa iman sebagai benteng, kesulitan yang kecil terasa seperti gunung. Kesedihan yang wajar, berubah menjadi keputusasaan. Allah sudah mengingatkan: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya."(QS. Al-Baqarah: 286).
Tapi ayat ini tidak lagi hidup di dada generasi kita.
Maka ketika cinta yang menjadi satu-satunya sandaran itu pergi, dunianya runtuh. Karena ia memang hanya punya satu sandaran itu.
*Hubungan Berbasis Manfaat, Bukan Aqidah*
Di sistem hari ini, kita membangun hubungan karena manfaat.
Berteman karena sekelas, pacaran karena kesepian, dekat dengan dosen karena nilai, semua transaksional.
Namun, begitu manfaatnya hilang, hubungannya pun hilang. Putus cinta sama dengan putus segalanya. Tidak ada keluarga besar, tidak ada masyarakat yang merangkul. Padahal ia punya ratusan teman di kampus, tetapi tidak ada satu pun yang ia rasa bisa menjadi tempat bersandar.
Inilah kesepian di tengah keramaian. Ramai di luar, sepi di dalam.
Padahal Islam mengajarkan membangun ikatan yang kuat dengan keluarga dan masyarakat berdasarkan aqidah, bukan manfaat. Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya. Bukan karena ada maunya, tapi karena Allah yang mempersaudarakan.
*Islam Datang Sebagai Rahmatan Lil'alamin*
Kita punya sistem pendidikan yang hebat, mencetak dokter, insinyur, sarjana. Tapi sistem itu berbasis sekuler, bukan berbasis akidah. Padahal akidah adalah kunci utama dalam kehidupan. Dengan akidah yang benar maka kita pun mampu melihat tujuan hidup dengan benar.
Menurut Taqiyuddin an-Nabhani, akidah adalah pemikiran menyeluruh tentang alam semesta, manusia, hidup, serta tentang apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan, di samping hubungannya dengan sebelum dan sesudah alam kehidupan. Artinya dengan akidah kita menjadi tahu dari mana kita berasal, mau apa kita hidup di dunia ini, dan ke mana kita setelah kematian datang. Akidah menjadi cara pandang kita dalam menjalani kehidupan.
Inilah sebabnya akidah menjadi sangat penting untuk ditanamkan sejak dini kepada setiap individu. Dengan akidah yang benar maka akan benar pula seseorang dalam menjalankan perannya sebagai hamba.
Akidah menjadi dasar, iman harus menjadi benteng sejak dini. Bukan sebaliknya pelajaran agama hanya 2 jam seminggu, kalah jauh dibanding pelajaran lain yang hanya untuk mengejar ranking dan IPK.
Akibatnya lahir individu yang pintar otaknya, tapi rapuh jiwanya. Kokoh nilai ujiannya, tapi rapuh saat diuji kehidupan.
Islam punya sistem pendidikan yang berbeda. Tujuannya bukan hanya mencetak ahli, tapi mencetak individu yang kokoh karena mengenal Rabb-nya. Generasi Rabbani, yang tahu bahwa setiap kesulitan adalah ujian, dan bunuh diri bukanlah solusi. Ia meyakini bahwa bunuh diri itu haram bagi seorang muslim apapun alasannya. Ia pun meyakini bahwa hidupnya bukan miliknya, tapi milik Allah, dan akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat.
Sistem ekonomi yang menjamin kesejahteraan masyarakat. Dengan sistem itu menjadi penopang ekonomi yang menjamin kesejahteraan setiap individu negara, sehingga mahasiswa tidak stres karena UKT, tidak cemas karena masa depan. Sehingga lahir masyarakat yang saling peduli.
Dan hal ini hanya mampu diterapkan ketika Islam diterapkan secara kafah dalam bingkai negara di naungan khilafah Islamiyyah. Dengan ketakwaan dan berpegang teguh pada hukum Allah barulah Islam mampu menjadi rahmatan Lil 'alamin.
Tidak semua orang harus beragama Islam. Tidak ada paksaan dalam beragama. Namun dalam pelaksanaan hukum semua harus terikat dengan hukum Allah, sebab Allah selain Ia sebagai al-kholik (pencipta), Ia juga adalah al-mudabbir( sang pengatur).
Allah sebagai pencipta pasti lebih tahu apa yang terbaik bagi apa-apa yang di ciptakan. Akal manusia lemah dan terbatas sehingga butuh kepada yang kuat dan tak terbatas yaitu Allah.
Penutup
RR (19 tahun) adalah cermin kita. Berapa banyak lagi generasi kita yang tertawa di kelas, tapi menangis di kos sendirian? Yang ramai followers-nya, tapi sepi jiwanya?
Jangan biarkan kesepian ini dianggap masalah pribadi. Ini adalah buah busuk dari sistem sekuler yang mencabut akidah dari kehidupan.
Sudah saatnya kita kembalikan akidah sebagai benteng jiwa.
Akidah yang benar hanya akidah Islam.
Sebab jika yang digunakan masih akidah sekuler (memisahkan agama dari kehidupan), kejadian semacam ini akan terus terulang.
Wallahu a'lam bishawab
Tags:
Opini
