Kesepian di Tengah Keramaian, Potret Kelam Generasi Sekuler


Susanti Amalia, D

Mahasiswa FK Universitas Brawijaya berinisial RR (19) diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus pada Kamis (10/9/2026).

Seorang pria berinisial FS (30) ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri di kawasan GBK, Jakarta Pusat, pada Minggu (6/9/2026) dini hari. Sebelumnya FS sempat mengunggah pesan perpisahan dan mendonasikan Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental.

Hotline pencegahan bunuh diri Healing 119.id mencatat klien didominasi kelompok usia 21–30 tahun, menunjukkan krisis kesehatan mental paling banyak menimpa generasi muda.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkapkan sebanyak 363.326 pelajar di Indonesia mengalami gejala depresi dan 338.316 pelajar mengalami gejala kecemasan. Hal ini terungkap dari hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 2025. “Dari 27 juta penduduk yang diperiksa kesehatan jiwanya, gejala depresi dan gejala kecemasan pada anak remaja ini lima kali lebih besar dibandingkan kelompok usia dewasa dan lansia," kata Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes Asnawi Abdullah di Jakarta, Selasa (10-2-2026), dikutip dari Antara.

Fenomena ini bukan lagi sekadar berita yang lewat di layar gawai, melainkan sinyal keras bahwa ada sesuatu yang sedang rapuh dalam bangunan generasi kita. Ini bukan hanya urusan satu keluarga, satu sekolah, atau satu daerah; melainkan cermin yang memantulkan wajah pendidikan, pola asuh, arah ke mana generasi ini akan dibawa dan apa sistem yang berlaku saat ini di dunia.

Usia muda atau pelajar seharusnya menjadi fase banyak belajar tentang bagaimana menemukan jati diri, potensi, dan makna hidup yang sesungguhnya. Namun, kondisi saat ini justru para pelajar dipenuhi rasa putus asa dan konflik ekstrem sehingga persoalannya jelas lebih besar dari sekadar disiplin atau aturan sekolah. Ini merupakan evaluasi mendasar tentang arah pembinaan karakter dan kesehatan mental peserta didik. Masa depan generasi tidak cukup dijaga dengan angka prestasi semata.

Bunuh diri marak, buah Sekularisme

Dibalik rentetan kasus bunuh diri mahasiswa, ada persoalan yang perlu kita renungkan. Bagaimana kondisi lingkungan pendidikan dan kesehatan mental generesi muda hari ini? Mengapa ketika tersandung masalah sedikit saja,  pelariannya adalah mengakhiri hidup? 

Generasi muda memiliki karakteristik unik yang membuat mereka lebih rentan terhadap tekanan psikologis. Mereka tumbuh dalam paparan teknologi digital sejak lahir, hidup di tengah banjir informasi, serta berinteraksi intensif di dunia maya. Kondisi ini membuat mereka akrab dengan dunia digital, tetapi di sisi lain rentan terhadap kelelahan emosional (emotional burnout). Mereka berisiko lebih dini mengalami kelelahan emosional, sementara kemampuan pengelolaan pikirannya belum matang. Kombinasi ini berpotensi membuat anak terjebak dalam tekanan mental yang berat hingga berujung pada tindakan ekstrem. 
Platform digital dengan seluruh aturan main­nya saat ini hadir satu paket dengan hegemoni Kapitalisme. Pengendalinya korporasi raksasa digital. Orientasi mereka hanya untung. Mereka tidak peduli dampak kerusakan pada generasi. Dengan mesin algoritma versi mereka, manusia dibuat berlama-lama dan makin tidak terpisahkan dari dunia digital. Tanpa sadar pola yang dibentuk maupun konten yang disuguhkan terus mengasup nilai dan teladan perilaku sekuler, kapitalistik, bahkan liberal. Sekularisme mencabut akidah dari kehidupan sehingga generasi kehilangan pegangan saat menghadapi tekanan hidup. Tanpa iman sebagai benteng, kesulitan terasa berat dan berujung pada keputusasaan.

Sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang mana pendidikan saat ini berorientasi pada prestasi akademik dan materi. Kurikulumnya pun berbasis sekuler yang mana agama diabaikan. Pendidikan agama yang diajarkan di sekolah-sekolah juga sekadar memenuhi kewajiban dalam kurikulum tanpa memberikan pemahaman yang benar tentang akidah yang benar, makna hidup, mengenal jati dirinya sebagai seorang muslim. Alhasil, kurikulum yang ada tidak mampu mencetak generasi yang cemerlang. Ketika pelajar tidak mempunyai tujuan hidup yang jelas, kegagalan kecil saja bisa terasa sangat besar dan berakibat pada perilaku negatif, bahkan anarkis. Pelajar tidak merasa takut kepada Allah dan mudah untuk berputus asa, serta menganggap nyawa kurang berharga. 
Kapitalisme melahirkan masyarakat yang individualistik. Setiap orang berjuang sendiri tanpa ikatan masyarakat yang kuat. Kesepian pun merajalela, bahkan di antara mereka yang secara materi berkecukupan. Pengaruh budaya positivisness, fokus mengejar sukses individu, asosial.  

Semua itu adalah buah dari negara yang menerapkan Sekularisme-Kapitalisme. Negara ini yang membentuk individu rapuh dan masyarakat individualistik melalui penerapan sistem pendidikan sekuler dan ekonomi Kapitalisme. Tidak hadirnya negara dalam menerapkan sistem aturan yang dapat menjaga jiwa serta kesehatan mental generasi. Negara tidak serius dalam membina generasi. Hal ini menjadikan pelajar tumbuh tanpa dukungan struktural yang akhirnya salah arah.

Solusinya: Kembali pada Islam

Melihat beberapa faktor penyebab bunuh diri generasi muda, kita melihat persoalan ini adalah persoalan bersifat sistemik. Dalam hal ini, solusi juga seharusnya solusi sistemik, yaitu solusi yang menyentuh akar penyebab dari suatu masalah secara menyeluruh, bukan hanya gejala di permukaannya. Solusi sistemik hanya bisa dilakukan oleh negara sebagai institusi yang memiliki wewenang membuat hukum. Berikut hal yang bisa kita lakukan untuk bisa menjauhkan generasi kita dari tren bunuh diri.

Membina kekuatan akidah generasi muda dan membentuk kepribadian Islam, yakni generasi muda berpikir dan berbuat berdasarkan akidah Islam. Dalam proses ini, generasi muda harus kita beri penjelasan bahwa Allah pasti akan memberikan ujian pada hamba-hamba-Nya yang beriman. Ujian ini adalah bentuk kasih-sayang Allah, karena dengan ujian, Allah akan memberikan ampunan, pahala dan menaikkan derajat kita di sisi-Nya. Ujian sering juga menjadi sarana untuk mendewasakan dan menguatkan diri kita. Bisa kita berikan contoh bagaimana para nabi diuji. Begitu pula para sahabat dan salafush-shâlih.
Satu hal yang harus kita yakinkan, Allah pasti akan memberikan pertolongan pada kita untuk menyelesaikan ujian tersebut. Allah adalah tempat kita berpegang, bersandar dan meminta pertolongan. Persoalan apapun, pasti akan ada jalan keluarnya. Allah SWT berfirman:
Siapa saja yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan bagi diainya jalan keluar serta memberi dia rezeki dari arah yang tidak dia sangka-sangka. Siapa saja yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya (QS ath-Thalaq ayat 2-3).

Menjelaskan hukum bunuh diri dalam Islam. Nabi saw. bersabda: Siapa saja yang membunuh dirinya sendiri dengan sesuatu, maka nanti pada Hari Kiamat ia akan disiksa dengan sesuatu itu.” (HR Muttafaq ‘alayh).
Bunuh diri adalah salah satu dosa besar yang pelakunya diancam dengan azab neraka. Orang yang bunuh diri dianggap telah berputus asa dari rahmat Allah dan menganggap Allah tidak ada untuk menolong dirinya. Ini adalah salah satu tindakan kufur sehingga konsekuensinya sangat berat.

Mengajarkan problem solving kepada generasi muda, bahwa setiap masalah pasti ada solusinya. Karena itu, dari kecil orangtua harus belajar membiarkan anak untuk mencari solusi sendiri bagi masalah-masalahnya. Terus membantu boleh jadi adalah ungkapan cinta kita. Namun, hal itu tidak akan mendidik anak untuk kreatif merumuskan problem solvingnya.
Memberikan tantangan-tantangan pada anak sesuai tingkatan umurnya sedari kecil. Hal ini akan membentuk kekuatan mentalnya. Namun, perlu diperhatikan agar tantangan tersebut memang mampu ia taklukkan sehingga ia percaya ia bisa menyelesaikan masalah.

Berusaha untuk menjadi sahabat. Kuncinya, orangtua harus meyakinkan anak bahwa orang tua adalah sosok yang bisa dipercaya. Karena itu jangan pernah berbohong sekalipun dalam hal-hal yang menurut kita sepele. Orangtua juga harus siap untuk mendampingi dan menerima ananda apa adanya. Dengan demikian ketika ada masalah yang tak sanggup ananda selesaikan, ia akan berlari mencari orangtua. 

Orang tua juga harus peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi pada generasi muda. Kalau  tiba-tiba sedih, atau tampak cemas, menarik diri, menjadi pendiam atau perubahan lain, orang tua harus mendampingi anak dengan bijak. Jangan menginterogasi, namun yakinkan orangtua siap mendengarkan masalahnya dan membantu pemecahannya.
Inilah, upaya yang bisa kita lakukan. Upaya ini, bila disertai dengan penerapan Islam secara sempurna oleh negara, akan menghasilkan solusi paripurna bagi persoalan tren bunuh diri di Indonesia, bahkan dunia.

Kondisi buruk yang menimpa generasi muda Muslim ini terjadi karena umat Islam saat ini berada dalam cengkeraman sistem sekuler-kapitalisme. Akibatnya, kaum Muslim kehilangan gambaran nyata tentang kehidupan Islam yang sesungguhnya. Selanjutnya posisi Islam yang seharusnya dijadikan landasan dalam berpikir dan berperilaku digantikan oleh pemikiran sekuler-kapitalisme. Negara dan penguasanya tidak punya standar halal-haram. Ketidakhadiran agama dalam kehidupan serta kentalnya paham sekuler menjadikan masyarakat seperti ini sebagai habitat yang cocok bagi tumbuh suburnya berbagai kemaksiatan.

Dalam sistem seperti ini fungsi keluarga, masyarakat dan negara benar-benar mandul. Strukturnya rapuh karena tidak tegak di atas landasan takwa. Keluarga atau orangtua tidak mampu berfungsi sebagai madrasah dan benteng pertama bagi anak-anaknya. Mereka larut dalam problem ekonomi dan relasi yang jauh dari ideal dan harmoni. Masyarakat pun menjadi rimba raya yang merusak fitrah kebaikan generasi mudanya. Akibatnya, anak-anak tumbuh dalam habitat yang jauh dari harapan. Ketahanan ideologinya lemah, selemah ketahanan ideologi keluarga, masyarakat dan negara. 

Sebenarnya Islam telah memberikan jawaban secara tuntas terhadap permasalahan apapun, termasuk keterpurukan generasi muda hari ini. Kita tinggal mengikuti apa yang telah diwahyukan oleh Allah SWT, Al-Khaaliq al-Mudabbir, dan meneladan utusan-Nya, Muhammad saw.

Syariah Islam turun untuk mengatur manusia sesuai dengan misi penciptaannya yang mampu menjadi solusi seluruh permasalahan. Ia bersifat universal, lengkap dan terpadu. Jika Syariah Islam diterapkan secara kaaffah maka manusia akan meraih kebahagiaan hakiki di dunia dengan dan di akhirat. Syariah Islam berfungsi menjaga hal-hal mendasar dan urgen bagi manusia seperti menjaga jiwa, keturunan, akal, kehormatan, agama, harta, keamanan dan negara. Anak-anak, generasi muda Muslim akan terjaga tumbuh kembangnya baik mental dan fisiknya, dapat menikmati pendidikan berbasis akidah Islam, berkualitas baik dengan cuma-cuma. 
Kurikulum pendidikan yang diterapkan akan mengajarkan pelajar untuk dapat memahami jati dirinya sebagai seorang muslim yang harus senantiasa terikat pada hukum dan aturan Allah swt, serta dapat memahami makna hidup yang sesungguhnya. Bahwa hidup ini bertujuan untuk beribadah kepada Allah Swt., serta mampu memilih dan memilah setiap aktivitasnya berdasarkan area yang dikuasainya atau area yang menguasainya. Alhasil, standar perbuatannya berdasarkan halal-haram yang sudah ditetapkan oleh Allah Taala. 

Khilafah juga akan mengatur media agar tidak menyebarkan konten-konten yang dapat merusak mental generasi. Media hanya akan memberitakan konten yang mendidik, mengajak kepada keimanan dan ketakwaan kepada Allah Taala. Apabila terdapat konten yang membuat kerusakan, negara segera bertindak untuk memberi sanksi. Menurut Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam halaman 117, instansi penerangan adalah direktorat yang menangani penetapan dan pelaksanaan politik penerangan daulah demi kemaslahatan Islam dan kaum muslim. Di dalam negeri untuk membangun masyarakat islami yang kuat dan kukuh, (serta) menghilangkan keburukannya.
Kekerasan dan mental illness yang hari ini menimpa remaja akan tercegah dengan sendirinya. Hal ini tidak akan muncul dalam sistem masyarakat yang menerapkan Islam yakni Daulah Khilafah Islamiyah, sebagaimana telah terbukti pada masa lalu.

Dalam sistem Islam, Negara tegak dengan landasan akidah Islam. Negara menjadi penanggung jawab utama penerapan seluruh syariah Islam. Dengan demikian seluruh rakyatnya, termasuk generasi mudanya, benar-benar terjaga. Ini karena Negara memfungsikan dirinya sebagai pengurus dan penjaga umat. Dimensi ruhiah yang lekat dengan kepemimpinan Islam membuat para penguasa tidak abai dengan moral rakyatnya. Mereka terus memastikan tidak ada satu perkara pun yang akan membahayakan akal, fisik dan mental mereka. Bahkan urusan akhirat rakyatnya juga menjadi perhatian negara.

Negara Islam pun menjadi support system lahirnya keluarga dan masyarakat ideal. Fungsi keduanya benar-benar berjalan karena ditopang oleh penerapan sistem hidup yang ideal. Ia akan benar-benar menjamin kehidupan yang penuh ketenteraman, kesejahteraan dan keberkahan. Inilah yang Allah SWT janjikan dalam al-Quran (Lihat: QS al-A’raf [7]: 96).
Penerapan Islam kaaffah oleh Khilafah inilah yang menjamin kemuliaan hidup, termasuk terjaganya generasi dari segala bentuk kerusakan. Serta negara hadir melindungi dan menerapkan aturan Islam secara kafah, maka mereka akan menjadi agen perubahan yang mampu sembuh dari rapuh dan bangkit dengan kekuatan membangun peradaban mulia, yaitu kembalinya sistem kehidupan islam yang mampu melindungi generasi. Wallahualam

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama