Oleh : dearni saragih
Aktivis dakwah
Demokrasi dan Oligarki
para penganut ideologi kapitalisme selalu mempropagandakan demokrasi sebagai sistem yang baik menuju terbaik. Dalam demokrasi dideskripsikan bahwasanya kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan akan tergapai dalam sistem demokrasi ini. Dan diklaim sebagai mekanisme yang paling menjamin distribusi ekonomi dan pergantian kekuasaan secara tertib dan aman.
Padahal realitas demokrasi tidaklah seperti yang disebutkan, justru yang sebenarnya terjadi adalah yang sebaliknya. Faktanya yang berdaulat dalam sistem Kapitalisme ini hanyalah para elit politik yang diklaim sebagai wakil rakyat. Akibatnya kemakmuran hanya akan dirasakan oleh segelintir elit tersebut tidak dengan masyarakat secara keseluruhan. Mereka adalah elit penguasa, partai, para pemilik modal dan para wakil rakyat. Mayoritas rakyat justru hidup dalam kemiskinan dan kesengsaraan. Dan demikian juga dengan keadilan dan kesetaraan dalam hukum yang selalu tumpul keatas dan tajam kebawah begitulah hidup dibawah sistem Kapitalisme.
Demokrasi yang lahir dari ideologi kapitalisme sejatinya menjadi salah satu alat penjajahan. Melalui demokrasi hukum dan undang-undang bisa dengan mudah mengendalikan masyarakat untuk jauh dari aturan Islam dan semakin lengket dengan aturan barat.
Kuatnya daya cengkram kapitalisme inilah yang telah menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam, sehingga banyak yang mengaku muslim tetapi menolak penerapan syariat Islam bahkan hingga menolak sistem pemerintahan Islam itu sendiri yaitu Khilafah Islamiyyah.
Entah apakah karena takut atau memang tidak pernah mau tahu karena mustahil di saat informasi yang serba cepat hari ini seseorang tidak pernah mendengar sistem pemerintahan Islam.
Parahnya lagi ketika ada kelompok dakwah mengingatkan akan kewajiban umat Islam untuk kembali pada ajarannya, mayoritas dari umat Islam itu sendiri yang menolak dan malah mengagung-agungkan sistem demokrasi yang merupakan bentuk sistem pemerintahan dari kapitalisme.
Padahal ajaran Islam merupakan risalah yang dibawa oleh Rasulullah Saw dari Allah Swt, sedangkan demokrasi berasal dari sistem kufur yang dibawa oleh montesquieu yang jelas-jelas orang kafir.
Jadi jika hari ini kita masih merasakan kezaliman dan ketidakadilan dari semua sektor kehidupan, sadarilah karena kita sedang berada dalam kemaksiatan besar kepada Allah Swt karena telah meninggalkan perintahnya untuk menerapkan syariat-Nya.
Maka, tidak mengherankan selama sistem kapitalisme masih bercokol di negeri ini kerusakan, kemaksiatan dan kezaliman akan terus terjadi dan merajalela.
Semua kerusakan tersebut akan sirna ketika sistem Islam kembali ditegakkan. Tentu tegaknya syariat Islam harus diperjuangkan tidak bisa hanya menunggu dan berpangku tangan. Umat Islam harus terus diingatkan agar segera menjadikan ajaran Islam sebagai landasan hidup baik sebagai individu, masyarakat maupun bernegara.
Maka, tidak mengherankan selama sistem kapitalisme masih bercokol di negeri ini kerusakan, kemaksiatan dan kezaliman akan terus terjadi dan merajalela.
Semua kerusakan tersebut akan sirna ketika sistem Islam kembali ditegakkan. Tentu tegaknya syariat Islam harus diperjuangkan tidak bisa hanya menunggu dan berpangku tangan. Umat Islam harus terus diingatkan agar segera menjadikan ajaran Islam sebagai landasan hidup baik sebagai individu, masyarakat maupun bernegara.
Tidak ada lagi tawar menawar karena konsekuensi sebagai muslim adalah taat pada Allah dan Rasul-Nya. Tinggalkan semua pengaruh sistem kehidupan kufur yang bertentangan dengan Islam.
Putuskan semua hubungan dengan antek-antek asing dan usir semua penjajahan di negeri ini yang mengatasnamakan investasi.
Indonesia tak butuh bantuan asing karena Indonesia hakikatnya negeri yang kaya. Indonesia pun tak kekurangan orang-orang pintar tetapi kekurangan orang yang berani berkata kebenaran.
Jangan sampai kita termasuk dalam golongan orang-orang yang menolak penegakkan syariat Islam, karena konsekuensinya amat berat. Di dunia dianggap bangkai berjalan dan di akhirat akan dibangkitkan dalam keadaan buta karena berpaling dari peringatan Allah Swt.
Sebagaimana firman Allah dalam surat Thaha ayat 124:
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِ نَّ لَـهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا وَّنَحْشُرُهٗ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ اَعْمٰى
“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.”
Dalam ayat ini telah jelas digambarkan bahwa manusia yang berpaling dari peringatan Allah (Al-Qur’an), mengabaikan ayat-ayat-Nya, dan membutakan hati dari petunjuk selama di dunia, maka di akhirat akan dibangkitkan dalam keadaan buta dan Allah Swt akan mengabaikannya.
Sebagaimana Allah Swt telah digambarkan dalam kelanjutan dari surat Thaha ini dalam ayat 125 dan 126 berikut:
قَا لَ رَبِّ لِمَ حَشَرْتَنِيْۤ اَعْمٰى وَقَدْ كُنْتُ بَصِيْرًا
"Dia berkata, "Ya Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta, padahal dahulu aku dapat melihat?"
قَا لَ كَذٰلِكَ اَتَـتْكَ اٰيٰتُنَا فَنَسِيْتَهَا ۚ وَكَذٰلِكَ الْيَوْمَ تُنْسٰى
"Dia (Allah) berfirman, "Demikianlah, dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, jadi begitu (pula) pada hari ini kamu diabaikan."
Demikianlah Allah telah memperingatkan manusia tetapi manusia terlalu angkuh dengan apa yang dimilikinya padahal apa yang dimiliki tersebut tidak akan pernah menjadi miliknya, dia akan binasa sebagaimana dunia yang dipijaknya.
Peran penting yang bisa dilakukan umat saat ini adalah dengan mendakwahkan dan menawarkan solusi Islam untuk mengatasi segala bentuk problematika kehidupan.
Wallahu’alam bissawab
Tags:
Opini
