Di setiap menjelang datangnya hari kemenangan,
ada satu rasa yang selalu menyapa paling dalam,
bukan rindu pada pakaian baru atau hiasan rumah,
melainkan rindu akan kehangatan di balik dapur ibu.
Terbayang sudah uap panas mengepul di pinggan,
kuah kuning kental beraroma rempah menyebar ke ruang,
potongan daging empuk terendam dalam santan,
itulah hidangan paling agung, ciptaan tangan terampil Ibu.
Bukan sekadar rasa gurih yang memanjakan lidah,
setiap suapan mengandung kasih yang tak terukur nilainya,
ada doa yang diaduk perlahan bersama bumbu pilihan,
ada lelah yang disembunyikan demi senyum anak-anaknya.
Rasa itu takkan kutemukan di restoran mewah mana pun,
tak ada koki dunia yang mampu meniru kelezatannya,
karena rahasia utamanya bukan pada resep atau cara,
melainkan ketulusan hati yang dicurahkan sepenuh jiwa.
Kini jarak memisahkan raga kita berdua Ibu,
namun rindu pada masakanmu selalu hadir menyiksa,
membayangkan betapa nikmatnya duduk bersamamu lagi,
menyantap opor lezat buatanmu di meja makan sederhana.
Rindu opor buatanmu adalah rindu akan kasih sayang,
rindu akan rumah, rindu akan tempat pulang, rindu akan surga,
terima kasih Ibu, atas segala rasa yang kau sajikan dulu,
masakanmu tetap yang terindah, abadi dalam sanubari.
Penulis
Imah Yuliati Sefiani

Tidak ada komentar:
Posting Komentar