Awal bulan adalah moment yang paling dinantikan oleh setiap pekerja, tak terkecuali Gen Z. notifikasi dari M-banking adalah sebuah kabar gembira atas kerja keras dan usaha selama sebulan. Setelah memastikan transferan gaji masuk para Gen Z pada umumnya akan langsung mengalokasikan dana tersebut untuk keperluan yang sudah menjadi tanggungan atau kewajiban yang tak bisa ditunda, seperti membayar sewa kos, listik, air, dan lainnya. Setelah menyelesaikan kewajiban beberapa dari Gen Z yang akan menyisihkan sedikit uangnya untuk menabung/ investasi. Namun banyak di antara meraka yang justru memilih untuk memberikan penghargaan terhadap diri atau sering disebut self-reward, banyak juga yang menyebut dengan healing tipis-tipis.
Meskipun bagi sebagian orang kebiasaan tersebut adalah sebuah pemborosan, namun bagi Gen Z hal tersebut hanyalah sebuah bentuk penghargaan kepada diri sendiri atas kerja kerasnya selama sebulan bekerja, bagi mereka ini adalah salah satu cara melepaskan penat atau mengurangi beban tekanan hidup yang semakin tinggi. (Kompas.com, 12-8-26)
*Sistem Kapitalisme menciptakan tekanan ekonomi*
Lebih dari 48% Gen Z menyatakan tidak merasakan aman dalam finansial. Hidup dalam sistem kapitalisme yang diterapkan negara saat ini begitu terasa menyesakkan dada. Dengan berbagai kebutuhan yang terus naik, namun gaji tak kunjung berubah bahkan stagnan. Dalam keadaan seperti ini Gen Z harus berjuang agar tetap bertahan meskipun di antara himpitan yang kian nyata. Kehidupan Gen Z diperparah dengan paparan media yang tak terkontrol, para pemuda setiap hari dicekoki dengan berbagai konten-konten yang tak mendidik dan hanya menjanjikan kesenangan semata. Berbagai potret kehidupan mewah terpampang di layar gadget, hal ini tak dimungkiri menjadikan seseorang tertarik untuk sekadar mengikuti trend atau menjadikan hal serupa sebagai style/ gaya hidup, meskipun keadaan finansial tak sepadan.
Bisa kita lihat bersama betapa ramainya para Gen Z yang ikut fomo meramaikan café atau tempat tongkrongan yang sedang hits ataupun viral. Meraka seolah tak ingin tertinggal dari hal-hal yang up to date. Demi memuaskan hasrat jiwa banyak diantara mereka yang justru harus rela gigit jari atau menangis mencari pinjaman uang demi sekadar memenuhi kebutuhan sehari-hari sebelum tiba waktu gajian. Para Gen Z bahkan tak ragu untuk mengambil pinjaman online demi bisa mengikuti perkembangan zaman atau fashion yang sedang viral. Tindakan gegabah dan sikap boros ini tidak bisa lagi untuk dihentikan, sebab negara sebagai pilar utama yang menjamin kesejahteraan rakyat justru mengambil keuntungan dari sikap konsumtif yang dilakukan Gen Z serta masyarakat secara luas.
Pemerintah harusnya menjadi garda terdepan yang memastikan para rakyatnya hidup makmur namun tetap bersikap sederhana. Sebaliknya pemerintah justru acap kali menunjukkan ketidakpedulian terhadap nasib Gen Z yang kian tertekan. Negara adalah wadah untuk segala kreasi pemuda untuk kemajuan bangsa, bukan sebaliknya. Saat ini yang pemuda kita miliki bukanlah segudang prestasi, sebaliknya segudang kerusakan. Media sosial adalah sebuah kecanggilan yang harunya bisa dimanfaatkan untuk mengumpulkan prestasi dengan berbagai informasi dunia dalam genggaman. Membiarkan media sosial tanpa kontrol hanya akan mejadikan para Gen Z sebagai pemuda konsumtif yang kabur akan kehidpan yang akan datang.
*Gen Z kehilangan Tujuan Hidup*
Dunia semakin berkembang, namun kehidupan para pemuda dan Gen Z justru mengalami kemunduran. Mereka bahkan seolah kehilangan jati diri dan tujuan hidup. Meraka tak mengerti apa hakikat dari kehidupan itu sendiri. Dengan suguhan media sosial yang mencerminkan seolah hidup ini terlalu berharga untuk tidak dinikmati, mereka terlena dan tunduk menjadi pemuas nafsu. Gen Z tak lagi berfikir panjang ketika hendak membelanjakan uangnya, mereka bahkan tak lagi memandang fungsi dari suatu barang yang akan mereka beli. Yang menjadi fokus mereka hanyalah apakah barang tersebut keluaran terbaru dan yang sedang tren ataukah tidak. Mereka tak lagi peduli dengan harga yang harus mereka keluarkan, asalkan lokasi makan atau liburan yang mereka kunjungi adalah tempat yang sedang viral. Para Gen Z yang terkenl dengan sikap kritisnya dialihkan dengan jawaban-jawaban ringan seperti bagian dari menikmati hidup.
Dalam benak Gen Z, kehidupan dunia hanyalah untuk memperoleh kesenangan hidup sebanyak-banyaknya. Bahkan diantara mereka rela menggadaikan diri atau akidahnya asalkan mereka bisa mencapai kepuasan tersebut. Yang menjadikan tolak ukur kebahagiaan mereka hanyalah kesenangan sesaat, bukan lagi rida Allah dan murka-Nya. Mereka lupa bahwa tujuan dari kehipan ini yang sebenarnya hanyalah untuk mengabdi dan beribadah kepada Allah.
Sebagaiman firman Allah Swt.;
ÙˆَÙ…َا Ø®َÙ„َÙ‚ْتُ الْجِÙ†َّ ÙˆَالْاِÙ†ْسَ اِÙ„َّا Ù„ِÙŠَعْبُدُÙˆْÙ†ِ ٥٦
"Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku". (QS. Adz-Dzariyat ayat 56)
*Paradigma Hidup dalam Islam*
Islam bukanlah sekadar agama yang mengatur tentang ibadah seorang hamba terhadap penciptanya. Dalam Islam seluruh kehidupan manusia selama di dunia ada aturan yang wajib dijalankan dan ditaati bagi setiap diri yang menghamba terhadap Tuhan yang menciptakan langit, bumi, dan seluruh isinya. Dunia hanyalah persinggahan yang Allah bentangkan untuk manusia mengumpulkan amal baik sebanyaknya sebagai bekal untuk kehidupan akhirat. Oleh sebab itu sudah menjadi kewajiban bagi setiap muslim termasuk Gen Z untuk menjadikan halal dan haram sebagai tolak ukur dalam perbuatan. Allah Swt. tidak mencintai orang-orang yang melakukan pemborosan dan perbuatan sia-sia.
Dalam Islam makan, minum, dan berpakaian ada aturannya. Allah memerintahkan agar menuasia hanya makan dari makanan yang halal lagi baik, begitu juga dengan minuman. Allah mengharamkan seseorang minum minuman yang mengandung alkohol. Belilah pakaian sesuai dengan kebutuhan, asalkan bisa menutupi aurat dan nyaman digunakan sudah cukup. Tak perlu membeli barang-barang yang sedang viral, sebab yang viral belum tentu sesuai dengan kebutuhan dan sesuai dengan pakaian yang harusnya dikenakan oleh seorang muslim/muslimah. Gen Z harus sadar bahwa setipa perbuatan selama di dunia akan dimintai pertanggungjawaban, termasuk dengan kebiasaan menumpuk barang-barang.
Dalam Islam seorang pemimpin bertanggungjawab agar rakyat yang tinggal dalam naungannya hidup sejahtera. Pemimpin dalam sistem Islam akan memastikan gaji para pekerja sesuai dengan kerja keras yang mereka usahakan. Pemimpin Islam juga mematikasan berbagai kebutuhan bisa dipenuhi dengan harga yang terjangkau. Dengan demikian tidak akan rakyat atau Gen Z yang akan merasa terhimpit dengan beban berat kehidupan dan melampiaskan dengan memenuhi kesenangan sesaat.
Dalam Islam mengunjungi keindahan alam ciptaan Allah adalah bagian dari ibadah, sebab dengan mengamati keindahan dan kebesaran melalui ciptaan-Nya akan mendekatkan diri kita kepada Allah. Islam mengajarkan seorang hamba untuk hidup sesui dengan kebutuhannya dan menjauhi sikap boros, makan dan minumlah dengan secukupnya.
Pemimpin Islam akan mengelola sumber daya alam dan memastikan lapangan pekerjaan yang layak bagi setiap laki-laki, sehingga rakyat termasuk Gen Z tidak akan berjuang sendiri. Pemimpin Islam akan memastikan kecanggihan teknologi seperti media sosial hanya digunakan untuk edukasi dan meningkatkan ketakwaan rakyat. Sebaliknya gaya hidup hedonis dari paparan konten merusak seperti yang ada dalam sekularime kapitalis akan ditutup rapat. Dengan berbagai upaya yang dilakukan pemimpin Islam, maka akan lahirlah para generasi yang memiliki akidah kokoh dan memiliki visi sebagi pembangun peradaban.
Wallahu a’lam bishawab
Tags:
Opini Gen Z
