Kebakaran Hutan Kalimantan, Musibah yang Berulang


Oleh : Nina Iryani, S.Pd

Dilansir dari www.kehutanan.go.id:

Jakarta, 21 Agustus 2026 – Sebanyak 12.880 personel gabungan dari berbagai unsur telah terlibat dalam operasi pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan yang memasuki hari ke-48. Kekuatan tersebut melibatkan Manggala Agni Kementerian Kehutanan, Masyarakat Peduli Api (MPA), sukarelawan, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK), pemerintah daerah, masyarakat, serta unsur terkait lainnya.

Sebagai bagian dari operasi gabungan tersebut, Kementerian Kehutanan mengerahkan 758 personel Manggala Agni untuk mendukung penanganan karhutla di Kalimantan. Personel tersebut terdiri atas 265 personel di Kalimantan Barat, 208 personel di Kalimantan Tengah, 174 personel di Kalimantan Selatan, dan 111 personel di Kalimantan Timur.

Kekuatan Manggala Agni kembali diperkuat dengan menyiapkan 45 personel tambahan dari Jawa, Sulawesi, dan Kalimantan Selatan untuk membantu wilayah yang membutuhkan penanganan lebih intensif, khususnya Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Penambahan dilakukan melalui Bantuan Kendali Operasi (BKO), yakni penugasan personel dari wilayah lain untuk memperkuat operasi di daerah yang membutuhkan.

Penanganan karhutla dilakukan secara terpadu melalui operasi darat dan dukungan udara. Di lapangan, Manggala Agni bersama MPA, sukarelawan, masyarakat, dan unsur tim gabungan terus melakukan pemadaman, pembasahan, serta pendinginan untuk mencegah api kembali menyala dan menjalar.

Penanganan terutama membutuhkan waktu lebih panjang pada kawasan bergambut, karena api dapat bertahan di bawah permukaan tanah dan kembali muncul apabila proses pembasahan dan pendinginan belum tuntas. Sementara itu, dukungan udara dilakukan melalui patroli serta water bombing pada lokasi-lokasi yang membutuhkan.

Sebagai bagian dari rangkaian penanganan karhutla di Kalimantan, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) juga telah dilaksanakan sebanyak 45 kali penerbangan dengan total 45 ton bahan semai. Operasi tersebut dilakukan dengan menyemai bahan pada awan yang memenuhi persyaratan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di wilayah yang membutuhkan dan mendukung upaya pemadaman yang berlangsung di lapangan.

Berdasarkan data sementara lapangan, luas karhutla tercatat 38.319 hektare di Kalimantan Barat, 8.019 hektare di Kalimantan Selatan, 7.635 hektare di Kalimantan Tengah, 2.715 hektare di Kalimantan Timur, dan 400 hektare di Kalimantan Utara. Data tersebut masih terus diperbarui dan diverifikasi seiring perkembangan penanganan di lapangan.

Memasuki pekan ketujuh operasi, perhatian juga diberikan terhadap kondisi personel yang telah bekerja selama berminggu-minggu di lapangan. Rotasi petugas dilakukan untuk menjaga kondisi fisik, sementara dukungan peralatan, logistik, posko komando, dan layanan kesehatan terus diperkuat.

Pada sejumlah lokasi kebakaran, tim juga membuat sumur bor sementara untuk mendekatkan sumber air dengan titik pemadaman, terutama di wilayah yang memiliki keterbatasan sumber air alami.

Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Kalimantan, Yudho Shekti Mustiko, mengatakan penguatan operasi terus dilakukan pada wilayah yang masih membutuhkan penanganan intensif. Pada saat yang sama, kondisi personel menjadi perhatian karena operasi telah berlangsung cukup panjang.

“Operasi belum selesai. Pemadaman darat dan udara terus berjalan, terutama di lokasi yang membutuhkan penanganan panjang. Kami menambah 45 personel Manggala Agni, melakukan rotasi petugas, serta memperkuat sumber air, peralatan, logistik, dan layanan kesehatan,” ujar Yudho.

Ia juga mengapresiasi seluruh unsur yang bekerja bersama dalam penanganan karhutla di Kalimantan.

“Kami mengapresiasi Masyarakat Peduli Api, sukarelawan, TNI, Polri, BPBD, DLHK, pemerintah daerah, dan masyarakat yang sudah berminggu-minggu bekerja bersama Manggala Agni di lapangan. Menjaga Kalimantan dari kebakaran bukan pekerjaan satu institusi,” tegasnya.

Selain pemadaman, patroli pencegahan melalui darat dan udara terus ditingkatkan untuk menemukan potensi kebakaran sedini mungkin. Keterlibatan MPA, sukarelawan, dan masyarakat menjadi penting karena mereka berada dekat dengan wilayah rawan, mengenali kondisi wilayahnya, serta dapat memberikan informasi awal ketika menemukan api maupun asap.

Upaya pencegahan menjadi bagian penting dari operasi agar kebakaran dapat dihentikan sejak awal dan personel tidak terus berpindah dari satu lokasi kebakaran ke lokasi lainnya selama periode rawan.

Direktur Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, Dwi Januanto Nugroho, menegaskan bahwa operasi panjang di Kalimantan bukan hanya tentang jumlah titik api yang berhasil dipadamkan, tetapi juga tentang melindungi masyarakat dan memastikan ribuan personel yang berada di garis depan tetap dapat menjalankan tugas dengan baik.

“Empat puluh delapan hari operasi menunjukkan beratnya pekerjaan menghadapi karhutla. Yang paling utama adalah melindungi masyarakat dan mencegah api meluas, tetapi kita juga harus menjaga orang-orang yang sudah berminggu-minggu berada di garis depan. Personel perlu dirotasi, kesehatannya dijaga, logistiknya dipastikan, dan kekuatannya ditambah ketika diperlukan,” tegas Januanto.

Ia menambahkan bahwa pencegahan perlu dilakukan bersama-sama oleh seluruh pihak yang berada di wilayah rawan.

“Perusahaan, pengelola kawasan, pemerintah daerah dan desa, serta masyarakat perlu meningkatkan penjagaan. Semakin banyak kebakaran yang bisa kita cegah sejak awal, semakin kecil risiko yang harus ditanggung masyarakat dan lingkungan,” ujarnya.

Kementerian Kehutanan terus memperkuat pencegahan, kesiapsiagaan, dan kemampuan merespons kebakaran sejak dini. Kerja bersama Manggala Agni, MPA, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, sukarelawan, dunia usaha, dan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menjaga hutan sekaligus melindungi kesehatan, keselamatan, ruang hidup, dan aktivitas masyarakat dari dampak karhutla.

Kementerian Kehutanan mengajak seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan selama periode rawan, menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran, serta segera melaporkan setiap indikasi api maupun asap agar dapat ditangani sedini mungkin sebelum meluas.

dalam Al Qur’an surat Al-Hadid  ayat 22-23:

مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الأَرْضِ وَلاَ فِي أَنْفُسِكُم إِلاَّ فِي كِتَابٍ مِّنْ قَبْلِ أَنْ نَّبْرَأَهَا إِنَّ ذَلِكَ عَلَى اللهِ يَسِيرٌ  (22) لِّكَيْلَا تَاْسَوا عَلَى مَا فَاتَكُمْ وَلاَ تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُم وَالله لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ (23)

Artinya : 

“Tiada suatu musibah yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (lauhul mahfuz) sebelum kami menciptakanya, Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.(kami menjelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu, Allah tidak suka orang yang sombong lagi membanggakan diri”.

Dari Shuhaib, ia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : 

“Sungguh menakjubkkan perihal kaum mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah (bernilai) kebaikan, dan itu tidak akan terjadi kecuali bagi orang mukmin. Jika ia ditimpa (dikaruniai) nikmat , ia bersyukur dan itu baik baginya. jika ia ditimpa bencana ia bersabar dan itu juga baik baginya” 
[HR Muslim].

Kata musibah digunakan juga untuk mengajarkan manusia bahwa musibah yang berupa kebaikan itu berasal dari Allah dan musibah yang berupa bencana karena hasil perbuatan manusia itu sendiri. Hal ini dikatakan dalam surat An-Nisa (4) ayat 79 :

مَا أصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللهِ وَمَا أَصَابَ ِمِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلَنَاكَ لِلنَّاسِ رِسُولاً وَكَفَى بِالله شَهِيداً

Artinya: 
"Apa saja nikmat (musibah) yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana (musibah) yang menimpamu adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu mejadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi"

"Sesungguhnya, dosa itu atas orang-orang yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak. Mereka itu mendapat azab yang pedih.”
(TQS Asysyura ayat 42).

Rasulullah SAW bersabda:

”Barang siapa yang menipu kami, bukanlah dia dari golongan kami.” 
(HR Muslim).

Demikian sistem saat ini sekuler kapitalis yang demi keuntungan pribadi atau golongan, membuka lahan bisnis baru dengan cara-cara kotor seperti sengaja menyuruh orang membakar hutan yang berdampak pada polusi udara akibat kepulan asap pekat, daerah sekitar menjadi lebih panas, hewan-hewan lindung terbakar dan luka-luka bahkan menyebabkan kematian, masyarakat terhambat aktifitasnya dan beragam dampak lain. 

Kejadian saat ini bukan yang pertama kalinya namun sudah yang kesekian kalinya setelah Sumatra dan kebakaran Kalimantan sebelumnya. 

Semua sibuk memadamkan agar api tidak merambat lebih jauh lagi, sibuk mencari siapa pelaku pembakar hutan. Namun tidak sampai pada siapa yang menyuruhnya, siapa yang di untungkan dalam musibah ini. 

Sistem kapitalis tak pernah benar-benar berpihak pada rakyat, semua demi keuntungan pribadi, golongan dan pemilik modal. Rakyat dibiarkan terkena musibah, kesulitan hidup,  tekanan ekonomi yang menjadi-jadi, sulit lapangan pekerjaan, mahal pendidikan dan kesehatan, politik yang terus menguntungkan penguasa namun melukai rakyat.

Beda hal nya dengan sistem Islam kaffah yang menguntungkan semua umat manusia dunia akhirat baik bagi muslim maupun non muslim. Hukum tegak dan adil bagi semua kalangan tanpa kecuali. Nyawa dibayar nyawa dengan kisos, pencuri potong tangan, pembakar hutan dikenakan ta'zir yang setimpal sebagai efek jera dan pencegahan bagi yang lain. Sehingga tidak ada kejahatan dan musibah serupa dikemudian hari.

Oleh karena itu sistem sekarang wajib diganti dengan sistem Islam kaffah yang sudah jelas sejahtera selama 13 abad lamanya seperti masa Rasulullah SAW dan para sahabat.

Dengan itu mari:

1. Terus menimba ilmu, mengumpulkan informasi akurat dan bersungguh-sungguh dalam belajar ilmu pengetahuan terutama ilmu agama Islam kaffah.
2. Dakwah jamaah pada keluarga, masyarakat dan negara agar Islam kaffah diterapkan kembali seperti masa Rasulullah SAW.
3. Perjuangkan hingga kita semua sejahtera dunia akhirat.

Wallahu 'alam bissawab

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama