-->

Notification

×

Iklan

Halaman

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Lubang Raksasa yang Menggetarkan Lima Puluh Kota

Minggu, 04 Januari 2026 | Januari 04, 2026 WIB Last Updated 2026-01-04T13:01:50Z

berita suarametronews hari ini


Minggu pagi di awal tahun 2026 yang seharusnya tenang di Kenagarian Situjuh Batua, Kabupaten Lima Puluh Kota, mendadak berubah menjadi kepanikan. Sebuah fenomena alam yang langka sekaligus mengerikan terjadi di Jorong Tepi, di mana tanah persawahan yang biasanya kokoh tiba-tiba amblas ke dalam perut bumi, meninggalkan lubang menganga berdiameter 10 meter dengan kedalaman yang diperkirakan mencapai 20 meter.


Fenomena ini tidak hanya menyisakan kerusakan fisik pada lahan pertanian, tetapi juga memicu tanda tanya besar serta kekhawatiran mendalam bagi warga setempat mengenai keamanan struktur tanah di wilayah mereka.


Dentuman di Tengah Hari: Kronologi Kejadian

Peristiwa yang terjadi pada Minggu (4/1/2026) sekitar pukul 11.00 WIB ini diawali dengan sebuah isyarat alam yang mencekam. Wirman, seorang warga lokal yang tengah beraktivitas di ladang tidak jauh dari lokasi kejadian, menjadi saksi kunci detik-detik terjadinya tanah terban tersebut.


Menurut kesaksiannya, suasana mendadak pecah oleh suara gemuruh yang sangat kencang, menyerupai ledakan atau runtuhan bebatuan besar dari dalam tanah. Getaran singkat sempat dirasakan sebelum ia melihat pemandangan yang sulit dipercaya: lahan sawah milik Adralmios (60) telah lenyap tertelan bumi. Di lokasi tersebut, kini berdiri sebuah lubang raksasa yang seketika terisi air, menciptakan penampakan seperti sumur raksasa di tengah areal persawahan.


Kapolres Payakumbuh, AKBP Ricky Ricardo, SIK, mengonfirmasi laporan tersebut setelah timnya melakukan pengecekan awal di tempat kejadian perkara (TKP). "Lubang ini memiliki dimensi yang cukup masif dengan potensi perluasan karena karakteristik tanah yang masih labil," ungkapnya.


Respons Cepat Otoritas dan Pengamanan Lokasi

Mengingat skala kerusakan dan risiko keselamatan, Kapolda Sumatera Barat, Irjen Pol. DR. Drs. Gatot Tri Suryanta, M.Si., CSFA, langsung memberikan atensi khusus. Melalui instruksinya, jajaran kepolisian dari Polres Payakumbuh segera diterjunkan untuk mensterilkan area.


Langkah-langkah darurat yang diambil meliputi:


Pemasangan Police Line (Garis Polisi): Petugas memasang batas pengaman dalam radius yang cukup luas. Hal ini dilakukan karena tanah di pinggiran lubang terpantau terus mengalami pengikisan (erosi) akibat arus air di dasar lubang.


Edukasi Warga: Mengimbau masyarakat yang penasaran agar tidak mendekat hanya demi mengambil foto atau video, mengingat risiko longsor susulan sangat tinggi.


Koordinasi Lintas Sektoral: Kepolisian telah menjalin komunikasi intensif dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lima Puluh Kota untuk melakukan asesmen teknis.


Analisis Fenomena: Mengapa Tanah Bisa Terban?

Meskipun hasil penelitian resmi dari tim ahli geologi masih ditunggu, fenomena ini secara ilmiah sering dikaitkan dengan sinkhole atau lubang amblas. Di wilayah Sumatera Barat, yang secara geografis berada di jalur patahan dan memiliki banyak formasi batuan kapur (karst), fenomena semacam ini bisa dipicu oleh beberapa faktor:


Pelarutan Batuan di Bawah Tanah: Air hujan atau aliran sungai bawah tanah yang bersifat asam perlahan melarutkan lapisan batuan di bawah permukaan, menciptakan rongga kosong.


Perubahan Tekanan Air Tanah: Fluktuasi debit air tanah yang ekstrem dapat menyebabkan atap rongga bawah tanah tidak lagi mampu menahan beban tanah di atasnya.


Intensitas Hujan: Mengingat kejadian berlangsung di awal Januari, curah hujan yang tinggi mungkin menjadi pemicu (trigger) runtuhnya lapisan tanah atas yang sudah jenuh air.


Dampak Psikologis dan Ekonomi bagi Warga

Bagi warga Situjuh Batua, peristiwa ini bukan sekadar berita unik. Ada kecemasan mengenai kemungkinan adanya "lorong" bawah tanah yang melintasi pemukiman mereka. Adralmios, pemilik lahan, tidak hanya kehilangan aset pertaniannya, tetapi juga menghadapi ketidakpastian apakah lahan di sekitarnya masih aman untuk diolah kembali.


Kondisi tanah yang masih labil di pinggiran lubang menunjukkan bahwa proses alam ini belum sepenuhnya berhenti. Sumber air yang muncul di dasar lubang menambah kerumitan, karena aliran air tersebut terus menggerus dinding lubang dari bawah, yang dapat menyebabkan diameter lubang terus bertambah lebar seiring berjalannya waktu.


Menanti Langkah Selanjutnya

Kapolda Sumbar menegaskan bahwa pihaknya akan terus mengawal perkembangan situasi ini hingga ada titik terang dari para ahli. "Kami meminta warga tetap tenang namun waspada. Tim ahli akan didatangkan untuk memastikan apakah fenomena ini bersifat lokal atau ada potensi ancaman di titik lain," ujar Irjen Pol. Gatot Tri Suryanta.


Saat ini, fokus utama adalah memastikan tidak ada korban jiwa. Warga diminta mematuhi semua instruksi petugas di lapangan dan melaporkan segera jika menemukan retakan tanah baru di sekitar kediaman mereka.


Fenomena di Situjuh Batua ini menjadi pengingat bagi kita semua akan kekuatan alam yang tidak terduga. Di balik keindahan alam Lima Puluh Kota, tersimpan dinamika geologi yang memerlukan kewaspadaan dan mitigasi bencana yang berkelanjutan.

×
Berita Terbaru Update