Imah Yuliati Sefiani
Suara takbir perlahan mulai mereda di angkasa,
tinggal sisa gema yang perlahan hilang ditelan waktu,
malam kemenangan hampir usai, pagi akan menyapa,
dan ini adalah lantunan terakhir yang kusimpan dalam hati.
Kuraih kalimat agung ini, kubawa sepenuh jiwa,
kupersembahkan khusus bagi keluarga yang kucinta,
bagi Ayah yang kini sudah tiada namun doanya ada,
bagi Ibu yang masih ada namun rindu selalu ada.
Takbir ini kubuat jembatan antara dunia dan akhirat,
untuk mereka yang dulu pernah ada di sisi kita,
yang dulu tertawa bersama di hari raya ini,
kini hanya nama dan kenangan yang tersisa abadi.
Takbir terakhir ini kuberi bagi yang masih ada,
tanda cinta bahwa sejauh apa pun kaki melangkah,
keluarga adalah akar, adalah rumah, adalah tempat pulang,
tak ada harta yang lebih mahal dari ikatan darah ini.
Biarlah kalimat ini jadi penutup malam yang indah,
bahwa sesungguhnya kemenangan terbesar dan terindah,
bukanlah karena puasa sebulan menahan lapar dahaga,
melainkan saat kita semua berkumpul damai dalam kasih sayang.
Sampai jumpa di pagi raya dengan senyum dan peluk,
memaafkan segala salah, melupakan segala luka,
karena takbir terakhir ini mengajarkan satu hal:
Cinta keluarga adalah anugerah terindah dari Yang Maha Kuasa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar