(HairudMh)
“Biarlah hati tetap bebas dalam perjalanan panjang ini, karena bumi terlalu luas untuk terburu-buru dimiliki.”
Arjuno berdiri tegap, menantang langit yang belum sepenuhnya membuka matanya. Tubuhnya seperti ksatria tua yang menolak menunduk, memandang dunia dari punggung bumi dengan kesunyian yang agung. Di sebelahnya, Welirang menghembuskan napas putih, belerang yang menyelimuti udara dengan aroma rahasia, seakan menyimpan cerita yang tak pernah selesai. Ibarat jika pendaki adalah tamu maka hanya Arjuno yang tau siapa yang berhak jadi tamu nya.
Aku menapak tanah yang masih basah oleh embun, mendengar desah angin yang menembus pepohonan. Setiap batu yang diinjak seakan berbicara, menandai bahwa perjalanan ini bukan sekadar jarak yang ditempuh, tapi waktu yang harus dirasakan. Pagi itu, kabut masih menggantung rendah ketika Raka mengikatkan tali carrier di bahunya. Angin dingin menyelinap melalui jaketnya, membawa aroma pinus dan tanah basah. Di belakangnya, Sekar berdiri sambil merapikan buff di leher, matanya menatap jalur pendakian yang berliku.
“Masih yakin?” tanya Raka, menoleh.
Sekar tersenyum kecil. “Bukankah gunung selalu menunggu orang-orang yang yakin?”
Raka terdiam. Ia mengenal Sekar bukan sebagai pendaki pemula, tetapi sebagai seseorang yang selalu menaruh perasaan di tempat paling berbahaya termasuk pada gunung, dan mungkin… pada dirinya. Mereka memulai pendakian dari jalur Tretes. Langkah demi langkah menyusuri hutan yang rapat, suara ranting patah dan burung yang terkejut menjadi saksi. Jalur Arjuno tidak ramah, tapi jujur. Ia tidak menjanjikan kemudahan, hanya keindahan bagi mereka yang bertahan.
Di pos Lembah Kidang, mereka berhenti sejenak. Sekar membuka botol minum, napasnya sedikit terengah.
“Kamu ingat cerita Arjuno dan Welirang?” tanya Sekar tiba-tiba.
Raka mengangguk. “Dua gunung yang katanya dijodohkan alam, tapi terus saling menguji.”
“Kadang aku merasa,” lanjut Sekar pelan, “Manusia itu seperti dua gunung. Diam, kokoh, tapi menyimpan letupan.”
Raka menatap api kecil yang mereka nyalakan. Ada kata-kata yang ingin ia ucapkan, namun tertahan oleh takut dan ego. Seperti lava yang terkurung di perut gunung. Pendakian dilanjutkan. Semakin tinggi, jalur semakin curam. Angin berubah kasar, mencambuk wajah. Saat itulah langit mendadak menggelap. Awan tebal bergulung cepat terlalu cepat.
“Raka, awan naik!” teriak Sekar.
Belum sempat mereka berlindung, hujan turun deras disertai angin kencang. Jalur menjadi licin. Sekar terpeleset. “Sekar!” Raka refleks menarik tangannya. Namun tanah rapuh runtuh. Sekar tergelincir beberapa meter ke bawah, tubuhnya terbentur akar pohon. Raka menuruni jalur dengan tergesa, jantungnya berdentum lebih keras dari guntur.
“Jangan tidur! Lihat aku!” suara Raka bergetar.
Sekar meringis, kakinya berdarah. “Aku… nggak apa-apa,” katanya berusaha tegar, meski napasnya berat. Raka mengeluarkan P3K, tangannya gemetar saat membalut luka. Hujan belum reda. Mereka terjebak.
“Aku salah,” bisik Sekar. “Harusnya kita berhenti tadi.”
Raka menggeleng keras. “Tidak. Gunung tidak pernah salah. Kita hanya harus lebih jujur pada diri sendiri.”
Ia menatap Sekar basah, terluka, namun tetap berusaha tersenyum. Saat itulah Raka sadar, ia lebih takut kehilangan Sekar daripada gagal mencapai puncak. Malam datang tanpa permisi. Mereka berteduh di balik batu besar, berbagi jaket dan sisa makanan. Angin menderu seperti raungan gunung yang marah.
“Raka,” kata Sekar lirih, “kalau kita selamat… aku ingin jujur.”
Raka menahan napas. “Aku juga.”
“Manusia selalu bertemu manusia, tapi langkah tidak selalu harus sejalan. Dan itu tak apa”(HairudMh)
#Cerpen #SastraIndonesia #Prosa #Fiksi #AlasLaliJiwo #HairudMh #CeritaPendek #Literasi #ArjunoWelirang #GunungArjuno #Tretes #LembahKidang #CeritaPendaki #FilosofiGunung #PendakiIndonesia #MountainStory #PerjalananHati #RomansaGunung #SelfDiscovery