Sia-sia sudah aku membangun istana di atas bara api,
kukira panasnya adalah gairah, ternyata api yang membakar diri.
Aku meletakkan setiap batu bata dengan harapan yang tinggi,
namun kau menyulut sumbu ledak di setiap sudut pondasi.
Kini aku berdiri di ujung rindu yang sudah hangus menghitam,
menatap puing-puing kasih yang tenggelam dalam kelam.
Satu hati berbeda jalan, kau memilih lari saat api mulai menjalar,
meninggalkan aku sendirian di antara reruntuhan yang berpijar.
‘’Sayatan di Balik Senyum’’
Ada sayatan luka yang tak terlihat oleh mata dunia,
tertutup rapat oleh tawa palsu dan sandiwara yang sia-sia.
Air mata kekecewaan ini telah mengering menjadi garam,
mengasinkan luka yang kau goreskan dengan begitu kejam.
Kita adalah dua kutub yang dipaksa menyatu dalam satu ruang,
namun satu hati berbeda jalan, membuat segalanya menjadi pincang.
Istana yang kita impikan kini benar-benar berdiri di atas bara,
setiap langkah untuk mendekat hanya berujung pada sengsara.
‘’Dua Arah di Satu Persimpangan’’
Di ujung rindu yang melelahkan ini, aku akhirnya menyadari,
bahwa mencintaimu adalah cara paling sunyi untuk bunuh diri.
Kita membangun istana di atas bara api yang menyala,
berharap keajaiban datang memadamkan segala sengketa.
Namun air mata kekecewaan adalah saksi yang paling jujur,
bahwa tembok yang kita bangun perlahan mulai hancur dan gugur.
Satu hati berbeda jalan, kau ke utara dan aku ke selatan,
menyisakan sayatan luka sebagai satu-satunya kenangan.
‘’’’’Garam di Atas Sayatan’’’’
Kupikir aku cukup kuat untuk bertahan di atas bara,
demi sebuah istana yang kita namakan cinta dan karsa.
Tapi ternyata, rasa kecewa lebih panas dari api yang membara,
menghanguskan kepercayaan hingga tak bersisa satu pun warna.
Sayatan luka ini kian perih saat rindu itu datang menyapa,
mengingatkan pada jalan berbeda yang kini harus kita tempuh tanpa rupa.
Air mata kekecewaan ini bukan lagi tentang memohonmu kembali,
tapi tentang menyesali diri yang pernah memberikan hati setulus ini.
‘’’Keluar dari Lingkaran Api’’’
Cukup sudah istana di atas bara api ini aku pertahankan,
kakiku sudah lepuh, jiwaku sudah hancur berantakan.
Sayatan luka ini adalah tanda bahwa kita tak lagi seirama,
satu hati berbeda jalan, tak perlu lagi dipaksa bersama.
Aku membuang semua air mata kekecewaan ke dalam api itu,
biarlah ia padam bersama sisa-sisa rindu yang membatu.
Di ujung jalan ini, aku memilih untuk berbalik dan pergi,
menyembuhkan luka sendiri, jauh dari istana yang menyiksa hati.
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar