Di panggung waktu yang sunyi,
Aku pernah menjadi tokoh yang paling terluka,
Mengeja sepi di bawah langit yang seolah menutup mata.
Terhempas dalam babak paling perih yang pernah dituliskan,
Menelan pahitnya pengkhianatan yang tak pernah kubayangkan.
Namun kini, naskah itu berubah di tangan Sang Pemilik Semesta,
Elegi yang dulu pilu kini menjelma prasasti yang bermakna.
Aku membasuh luka dengan aksara singgasana,
Membangun kejayaan di atas puing-puing derita lama,
Dan merawat monumen patah hati menjadi sebuah prestasi nyata.
Ternyata, inilah skenario-Mu yang paling rahasia,
Menghancurkanku berkeping-keping hanya untuk membangunku kembali,
Menjadi sosok yang lebih megah dari sekadar mimpi-mimpi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar