Purwokerto.Jawa Tengah
Aku pernah menjadi arsitek paling keras kepala,
membangun istana di atas bara api dengan tangan terbuka.
Kukira cinta sanggup menjinakkan lidah api yang membara,
ternyata ia justru melumat habis seluruh mimpi dan karsa.
Kini aku berdiri gemetar di ujung rindu yang fana,
di mana setiap hembusan napas terasa seperti cuka.
Ada sayatan luka yang terukir dalam di dinding dada,
menjadi prasasti tentang sebuah perjuangan yang sia-sia.
Dulu kita adalah satu, atau setidaknya begitulah aku mengira,
sebelum akhirnya kau tunjukkan bahwa kita adalah dua pengembara.
Satu hati berbeda jalan, kau memilih lari menuju arah yang lain,
membiarkan aku terjerat dalam benang-benang takdir yang pilin.
Kini tak ada lagi yang perlu aku pertahankan dengan paksa,
semua telah larut dalam air mata kekecewaan yang tak terhingga.
Biarlah istana itu runtuh menjadi abu yang paling sunyi,
sebab tak ada lagi tempat untukmu di dalam hati ini.
‘’. Kepada Pemilik Segala Cinta.’’
Dulu aku tersesat, mencari sandaran pada jiwa yang fana,
membangun harapan di atas tanah yang penuh dengan luka.
Kini kutitipkan kembali rasa yang pernah membara ini,
ke dalam pelukan-Mu, Sang Pemilik hati yang abadi.
Sebab cinta-Mu tak pernah meninggalkan jalan berduri,
tak pernah membiarkan hamba-Mu meratap sendiri.
Jika satu hati harus berbeda jalan dengan manusia,
biarlah jalanku kini hanya menuju ke arah-Mu saja.
Aku pasrahkan sayatan luka dan air mata ini,
ubahlah menjadi sujud yang paling tulus dan sunyi.
Karena hanya pada-Mu, rindu ini akan menemukan muara,
dan cintaku takkan lagi terbakar oleh api dunia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar